2017-11-21

Thasin Al Tauhid (Keesaan)


At Thawasin Al Azal (Al Hallaj) - Thasin Al Tauhid (Keesaan) (8)

1. Dia – Allah, Sang Maha Hidup (Al-Hayy).

2. Allah adalah Sang Esa, Unik, Sendiri, dan „saksi‟ sebagai yang Satu.

3. Sekaligus, Sang Esa dan kesaksian atas Penyatuan (Tawhid) yang Satu, Adalah „di Dia‟ dan „dari Dia‟.

4. Dari-Nya datang jarak pemisah (makhluk) yang lain dari Penyatuan-Nya, dan itu dapat dilambangkan demikian ini:


Tauhid terpisah dari Allah, dan simbol „wahdaniyah‟ ini dilambangkan oleh „Alif‟ (ﺍ) panjang, dengan sejumlah „dal‟ (د) di dalamnya. Adapun „Alif‟ -nya (ﺍ) merupakan Zat, dan „dal‟ -nya (د) sebagai Sifat.]

5. Pengetahuan Tauhid adalah sebuah ikhtisar kesadaran yang mandiri, dan perlambangnya demikian ini:

Inilah „Alif‟ (ﺍ) purba- Nya Zat (‟Alif‟ panjang) dengan „alif - alif‟ (ﺍ ﺍ) lainnya, yang merupakan wujud-wujud makhluk, dan yang hidup di atas „Alif‟ (ﺍ) utama.]

6. Tauhid adalah sifat subyek makhluk yang melafalkan ketauhidannya, dan bukan sifat sang Obyek yang tersaksikan Satu.

7. Apabila aku yang makhluk mengatakan “aku”, dapatkah aku membuat-Nya juga mengatakan “Aku”? Tauhidku datang dariku, dan bukan dari-Nya. Dia suci [munazzah] dariku dan Tauhidku.

8. Bila aku mengatakan: “Tauhid kembali ke „ia‟ yang mengatakannya,” maka aku membuatnya (Tauhid) sebagai suatu makhluk.

9. Jika aku mengatakan: “Tidak, Tauhid itu datang dar i sang Obyek yang tersaksikan,” maka adakah hubungan yang mengaitkan seorang peng-Esa (Tauhid) ke pernyataannya tentang Penyatuan itu?

10. Andai kukatakan: “Memang, Tauhid adalah hubungan yang mengaitkan sang Obyek ke subyeknya,” maka aku telah mengarahkan hal ini ke sebuah ketentuan nalar! (Selanjutnya -`Thasin Al Asrar fi al Tauhid (Kesadaran Diri Dalam Tauhid) (9))

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

KOMENTAR