2017-10-15

Ahli Tasawuf Yang Sejati


Kitab Barencong - Ahli tasawuf yang sejati ialah mereka yang benar-benar memegang agama yang tulen. Ahli sufi yang sejati ialah mereka yang jiwanya bebas tidak terikat oleh apa-apa atau siapapun, dan bebas menjalankan kebenaran dari ilahi robbi. Berani mengatakan itu benar dan ini salah. Ahli tasawuf adalah putus dengan makhluk dan erat hubungannya dengan Tuhan, pandangannya Allah semata. Ahli tasawuf tidak melihat kepada dirinya lagi, hanya Allah dalam pandangannya. Jadi siapa yang masih melihat kepada dirinya, niscaya tiada melihat akan Tuhannya. Seluruh pandangan ruhaniyah memandang satu dalam banyak. Dan yang banyak pada yang satu. 

Tersimpun dalam satu kesatuan yang dalam istilah sufi disebut pabrik KUN dan yang diatur oleh seorang insinyur yang pintar ialah: ALLAH TA’ALA. Kalau pandangan kita sudah mantap seperti itu, maka hilanglah rasa takut dan gentar, kecuali kepada Allah saja. Jadi pandangan seorang yang dibawah memang berbeda dengan yang diatas. Ujud selain daripada ujud Allah adalah ujud pinjaman karena semua itu Allah dan Allah itu semuanya, ia hanya pertanda dari yang sebenarnya ada. Yang ada adalah yang ada, yang ada ialah yang awal dan tidak ada permulaannya, yang akhir tidak ada penghabisannya.

SABDA RASULULLAH S.A.W.

Zabir berkata, katanya: RASULULLAH S.A.W. bersabda: Siapa dapat melakukan HUSNUDZAN artinya; baik sangka kapada Allah Ta’ala, sehingga ia tiada mati kecuali tetap dalam husnudhzan terhadap Allah Ta’ala.

Maka haruslah kita berbuat husnudhzan terhdap Allah Ta’ala dan pada sesama kita umat MUHAMMAD.

Sesungguhnya kata NABI, sebaik-baik fi’il / kelakuan ibadah kepada Allah ialah: baik sangka kepada Allah. Baik sangka kepada Allah itu pertanda bahwa sudah bulat tawakkalnya kepada Allah, dan penyerahannya kepada Allah, orang itu jaminannya hanya Allah.

LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI
Artinya: TAK ADA DAYA UNTUK BERBUAT KEBAIKAN DAN TAK ADA UPAYA UNTUK MENOLAK KEJAHATAN.

BUKHARI MUSLIM BERKATA:

Tak ada dayaku untuk menolak suatu kemelaratan atau bahaya keburukan, dan tak ada upayaku untuk berbuat kemanfaatan,melainkan dengan Allah jua. Jadi tidak mudah bagi kaum sufi untuk mengatakan: La hawla wala quwwata illa billahi.

Disini hamba tekankan janganlah kamu berani mengatakan La hawla wala quwwata illa billahi, sebelum kamu memasuki alam tasawuf. Engkau katakan itu tetapi ujudmu masih ada, selama ujudmu masih ada, selama itu juga engkau dalam bergelimang dalam dosa durhaka kepadanya.

Selama ujud ADAM masih melekat dalam ingatanmu, selama itu pula engkau mempermainkan Tuhanmu. Ini namanya lain dimulut / dihati. Kalau engkau mengatakan: LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAHI

SEBELUM ENGKAU MATI, MAKA CELAKALAH KEMATIAANMU. Hilangkanlah ke AKUAN mu, lenyapkanlah kesombonganmu, baru sempurna amal ibadahmu kepada Allah.

BISMILLAHI AWWALLUH, WA AKHIRU, artinya: Awalnya Allah, akhirnya Allah.
Awalnya tidak ada permulaannya. Dan akhirnya tidak ada penghabisannya.

MALLAM YASY KURINNAS, LAM YASY KURILLAH. Artinya: Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesamanya, maka samalah ia tidak berterima kasih kepada Allah.

Sebab NUR MUHAMMAD itu adalah hakikat alam. Dan Allah adalah hakikat alam atau hakikat ujud dalam hidup ini. Allah adalah hakikat kekuatan dalam hidup ini. Johir Tuhan ada di manusia, dan bathin manusia ada di Tuhan.

Kalau anda sudah mengerti, laksanakanlah.

Untuk memperkuat dalil ini, hamba bawakan sebuah hadits qudsyi yang berbunyi:

AL INSANU SIRRI, WA ANA SIRRUHU (SIRROHU).
Kata TUHAN: INSAN ITU RAHASIAKU, AKUPUN RAHASIANYA.
DAN LAGI: AL INSANU SIRRI WA ANA SIRRI, SIFATIN WA SIFATUN LA GHOIRIH.
ARTINYA: INSAN ITU RAHASIAKU DAN RAHASIA ITU SIFATKU, SIFATKU ITU TIADA LAIN DARIPADAKU.

Dalil ini dalil nyata, tak bisa lagi diragukan. Menurut riwayat: Banyak para pemuka-pemuka agama, ahli tasawuf dan lain-lainnya: mencari siapa DIA yang sebenarnya. Maka datang para nabi-nabi dan rasul-rasul menyampaikan langsung, melompat dari mulut / lidahnya perkataan:

AMALLAH LA ILAHA ILLA ANA
Artinya AKU ALLAH, TIDAK ADA TUHAN, MELAINKAN AKU

Jadi menurut aqidah/pendirian hamba dalam soal ini; hamba tidak taklid dengan siapapun, dan hamba nyatakan bahwa kalimah itu tadi adalah inti dari semua golongan tasawuf, golongan para wali-wali, para sahabat, aulia dan anbiya dan para nabi-nabi dan para rasul-rasul. Jadi kalau para nabi dan rasul demikian adanya, maka tiada lain andapun juga demikian hendaknya.

Banyak kaum sufi mati, karena mempertahankan pendiriannya.

Hamba sebagai penulis buku ini menyatakan: Apabila lain dari yang di ucapkan RASULULLAH s.a.w. itu tadi, maka: BUKANLAH IA DARI GOLONGAN MUHAMMAD. DAN KELUAR DARI GOLONGAN MUHAMMAD. MAKA IA BUKAN TERMASUK KELUARGA TUHAN.

Didalam Al-Qur’anul Karim Tuhan mengatakan: 

AKU akan memberikan SATU kata kepadamu. Tetapi engkau tidak sanggup. 

Apakah yang dimaksud SATU kata itu?
Inilah SATU kata itu tadi: Siapa yang sanggup dialah keluarga Tuhan. Siapa tidak sanggup dialah keluarga syaiton.

Pilihlah antara dua: ingin jadi pahlawan Tuhan, atau jadi pahlawan syaiton.

Siapa menjadi keluarga Tuhan didunia ini, niscaya sampai ke-akhirat. Dan siapa menjadi keluarga syaiton didunia ini, niscaya sampai juga ke-akhirat.

SABDA RASULULLAH S.A.W.
SYARIAT ITU SEPERTI TANAH
THARIKAT ITU SEPERTI AIR
HAKIKAT ITU SEPERTI ANGIN
MA’RIFAT ITU SEPERTI API

TANAH ITU BADAN MUHAMMAD
AIR ITU NUR MUHAMMAD
ANGIN ITU NAFAS MUHAMMAD
API ITU PENGLIHATAN MUHAMMAD

ADAPUN MATI ORANG SYARIAT ITU HANCUR LULUH
ADAPUN MATI ORANG THARIKAT ITU KURUS KERING
ADAPUN MATI ORANG HAKIKAT ITU LAMAK GEMUK
ADAPUN MATI ORANG MA’RIFAT ITU HILANG LENYAP

SABDA NABI S.A.W. : 

SYARIAT ITU LIDAHKU
THARIKAT ITU HATIKU
HAKIKAT ITU KEDIAMANKU
MA’RIFAT ITU ROHKU
PERNYATAANKU:
AKU HIDUP BUKAN KARENA NAFAS
BUKAN KARENA DENGAN NYAWA
BUKAN KARENA DENGAN ROH
BUKAN KARENA ITU DAN INI
TAPI AKU HIDUP SENDIRINYA SEBELUM ADA KEHIDUPAN DIDUNIA INI
AKU SUDAH ADA SEBELUMNYA ADA DUNIA YANG ADA INI
AKU ADALAH AKU DIDALAM AKU, BER-AKU AKU
BILA AKU BERNYATA, ITULAH AKU DALAM KEADAANKU
SEBAB KEADAANKU ITU ADALAH KEADAANKU JUA

TENTANG FANA UL FANA
  1. Fana zahir yaitu: merasakan tajali atau memantul keagungan Tuhan pada tindak tanduk seseorang, sehingga segala keinginan, kehendaknya, ikhtiarnya sudah terlepas dari dirinya. Karena itu kadang-kadang orang itu sampai-sampai beberapa lama tidak tahu makan dan minum dan sebagainya, semuanya terserah kepada Allah.
  2. Fana bathin yaitu: hatinya saja yang fana dan lahirnya tidak, lahirnya seperti biasa. Hatinya terbuka pada melihat sifat-sifat Tuhan, dan keagungan serta gerakan-gerakan Tuhan, hilanglah segala was-was dan keragu-raguan dalam hatinya dan penuhlah hatinya dengan keyakinan terhadap Allah s.w.t. Tidak ada dalam hatinya timbul perasan takut dan gentar, kasih dan sayang, suka dan duka, kecuali kepada Allah.
Fana yang demikian itu yang membawa ke maqam baqabillah, serta melewati fana yang pertama. Biasanya lebih dahulu dimulai dengan pengakuan seluruh wujud. Sedang hatinya atau rohnya selalu melihat gerakan Allah, baik dalam ibadah seperti: dalam sembahyang. Dan dalam segala apa yang dilihat dan didengar dan lain-lain sebagainya.

Maqam baqabillah inilah yang senantiasa ada pada para nabi dan rasul-rasul, dan aulia dan anbiya Allah Ta’ala yang beredar dibawah qidamnya nabi Muhammad s.a.w.

Maqam baqabillah ini kebanyakan adalah maqam mereka yang mahzub, dimana setelah mereka berada dipuncak tauhid, lalu mereka turun kepada sifat, dan sama, terus kepada af’al, sehingga kelihatan pada lahirnya mereka seperti orang biasa saja, memandang akuan ini, dan berbuat seperti ahli syariat umumnya. Tetapi hati mereka tidak pernah lupa kepada Allah dan selalu berpegang kepadanya. Ada perbedaan sedikit bagi orang yang berada dimaqam fana, mereka adalah orang yang salik. Dimana pandangan mereka dimulai dari bawah dan terus naik atau tarakki. Yakni dimulai memandang akuan, naik kepada af’al, sama, terus kepada sifat, dan akhirnya kepda zat. Dan karena tajamnya dan asyiknya musahadah, mungkin terjadi perasaan fana, yang kita maksudkan dengan fana zahir yang tersebut diatas.

Demikianlah perjalanan fana dan baqa bagi seorang arifbillah atau wali Allah Ta’ala. Jadi disini hamba katakan bahwa, kalau di maqam fana belum faham betul atau belum mengerti, maka tidak ada harapan untuk mencapai maqam baqa. Maka daripada itu pandanglah sedalam-dalamnya tentang maqam fana, kalau sudah hasil makam fana, maka tercapailah maqam baqa. Demikianlah tentang maqam fana dan maqam baqa.

SOAL SOAL IKHLAS

Tidak dapat dikatan kecil perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas (sepiring pamrih).
Tidak dapat dikatakan benar awal-awal yang dilakukan dengan tidak ikhlas, karena belum ma’rifat.
Orang yang menjalankan fana dan baqa baru syah disebut khusyu dan ikhlas.

Firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim: yang artinya demikian: Sesungguhnya Allah hanya menerima amal perbuatan yang sudah kembali. Yaitu amal yang dilakukan dengan ikhlas, dan tepat sasarannya menurut ajaran Tuhannya.

ABDULLAH IBNU MA’SUD r.a berkata: Dua rakaat yang dilakukan oleh orang yang berilmu, dan mengerti /ikhlas, adalah lebih baik daripada amal ibadah yang dilakukan oleh orang yang tidak mengerti, sepanjang umurnya atau selama hidupnya (tidak diterima amal ibadahnya).

Sekarang baiklah kita berkisar pada ilmu-ilmu. Ilmu itu ada tiga unsur atau tiga martabat:
  1. Ilmuyakin ialah: keyakinan yang didapat dari pengertian teori belajar atau berguru.
  2. Ainalyakin ialah: keyakinan yang didapat dari fakta keyakinan yang lahir, setelah terungkap atau terbuka.
  3. Hakkulyakin ialah: keyakinan yang benar-benar langsung dari Tuhan dan tidak dapat diragukan lagi kebenarannya, yaitu; keyakinan-keyakinan yang mutlak.
Demikianlah adanya.
    DZIKRULLAH

    Apakah yang disebut dengan DZIKRULLAH itu? 

    Menurut pengertian umum memuji dan menuju dengan hati yang tulus ikhlas. Tetapi tulus dan ikhlasnya itu berbeda dengan orang yang mengerti/ yang faham. Orang yang faham ialah, seperti dalil berbunyi:
    LA YA’DZIKRULLAH ILLALLAH, artinya: tidak menyebut Allah hanya Allah.

    Adapun yang mengatakan LA ILAHA ILLALLAH itu ialah: RAHASIA ALLAH DZAHIR DAN BATHIN, ATAU BATHIN DAN DZAHIR. Kesimpulannya ialah: tidak lagi kita ini yang mengatakan kalimat itu, melainkan SIRULLAH jua adanya. Dengan demikian leburlah tubuh itu dan hati itu kepada Roh, dan Roh itu hancur pula menjadi NUR, dan NUR itu lenyap pula kepada RAHASIA ALLAH TA’ALA. Jadi yang berzikir itu adalah RAHASIA ALLAH jua.

    Disini letaknya nilai, dan nilai itu terletak dalam diri pribadi masing-masing. Inilah yang disebut ISI daripada DZIKRULLAH itu. Berzikirlah dengan Dzikrullah, dan ingatlah dengan ingatnya Allah dan pandanglah dengan pandangannya Allah. Dan berbuatlah dengan perbuatan Allah, dan tinggalkanlah apa-apa yang ditinggalkan oleh Allah.

    Kerjakanlah apa yang dikerjakan Allah, dan tinggalkanlah apa yang ditolak Allah.

    INILAH KATA-KATA PAHIT TAPI MANIS.

    BEBERAPA KESIMPULAN

    TIADA MENGENAL ALLAH, HANYA ALLAH
    TIADA MELIHAT ALLAH, HANYA ALLAH
    TIADA MENYEMBAH ALLAH, HANYA ALLAH
    TIADA MENYEBUT ALLAH, HANYA ALLAH
    TIADA YANG MAUJUD, HANYA ALLAH
    TIADA UJUD BAGIKU, HANYA UJUD ALLAH
    TIDAK ADA DALAM DIRI, MELAINKAN ALLAH
    TIADA UJUD BAGI KITA, HANYA UJUD ALLAH
    TIADA HIDUP KITA, HANYA HAYATULLAH ZAT
    TIADA PERBUATAN KITA, HANYA FI’IL ALLAH
    TIADA NAMA BAGI KITA, HANYA ASMA ALLAH
    TIADA PANDANGAN KITA, HANYA PANDANGAN ALLAH
    TIADA PENGLIHATAN BAGI KITA, HANYA PENGLIHATAN ALLAH
    TIADA PENGUCAP BAGI KITA, HANYA UCAPAN ALLAH
    TIADA PENCIUMAN BAGI KITA, HANYA PENCIUMAN ALLAH
    TIADA RASA BAGI KITA, HANYA RAHASIA ALLAH
    TIADA KUASA BAGI KITA, HANYA KUDRAT ALLAH
    TIADA HIDUP BAGI KITA, HANYA KEHIDUPAN ALLAH
    TIADA BERKEHENDAK KITA, HANYA IRADAT ALLAH
    TIADA TAHU KITA, HANYA ILMU ALLAH
    TIADA MENDENGAR KITA, HANYA ALLAH
    TIADA MELIHAT KITA, HANYA ALLAH
    TIADA BERKATA-KATA KITA, HANYA RAHASIA ALLAH
    TIADA UJUD BAGI KITA, HANYA UJUD ALLAH
    TIADA LAGI KITA KITA INI, HANYA DALAM RAHASIA ALLAH

    DEMIKIANLAH BEBERAPA RAHASIA DALAM MA’RIFAT


    KHALIK DAN MAKHLUK

    BEBERAPA KESIMPULAN:

    Asal kata makhluk diambil dari kata-kata halq.
    Dan kata-kata halq itu diambil dari kata khalik.
    Dan kata-kata khalik itu adalah khalik.
    Jadi asal dari khalik kembali lagi kepada khalik.
    INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN.
    DATANG DARI ALLAH KEMBALI KEPADA ALLAH.
    Awalnya Allah, dan akhirnya Allah.
    Awalnya Tuhan, dan akhirnya Tuhan.
    Awalnya tidak ada permulaannya, dan akhirnyapun tidak ada penghabisannya.

    Kalau ma’rifat kita sudah ta’zmullah, yaitu: tilik seorang arif itu akan kebesaran dan kemuliaan, keagungan sesuatu itu melainkan itu semata-mata kebesaran, kemuliaan, dan keagungan Tuhan Allah aza wajallah jua adanya.

    Maka intisari daripada itu adalah: Segala makhluk itu adalah khalik, dan khalik itu sebaliknya.

    Dalilnya: SYUHUDUL KASRAH FIL WAHDAH dan SYUHUDUL WAHDAH FIL KASRAH, akhirnya SYUHUDUL WAHDAH FIL WAHDAH. Demikianlah pandangan seorang arifbillah.

    Jadi kesimpulannya adalah: SEMUA ITU ALLAH, dan ALLAH ITU SEMUANYA. Inilah yang disebut WAHDAH AL UJUD : atau kesatuan UJUD. Demikianlah yang dapat hamba menyimpulkan bahwa: ALLAH ADALAH HAKIKAT ALAM. (Selanjutnya - Rukun Agama Ada 4 Pasal)

    File pdf:

    https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0Tlc2QkZISVlFckU  
    https://googledrive.com/host/0B6BIN5otUZK0LXVJSDMyYlZKdGs

    KOMENTAR