Kitab Barencong - Kehidupan dan alam penuhlah rahasia-rahasia. Rahasia-rahasia itu tertutup oleh dinding. Diantara dinding-dinding itu ialah hawa nafsu kita sendiri. Tetapi rahasia-rahasia itu mungkin terbuka atau tersimpan. Dan dinding-dinding / hijab itu mungkin tersimbah kita dapat melihat atau merasai berhubungan langsung dengan yang ter-rahasia, asal kita sudi menempuh jalannya. Jalannya ialah jalan yang dinamai tarikat. Dan jalan inilah yang menyampaikan kepada ilmu hakikat. Jadi kumpulan ilmu pengetahuan syariat, kesediannya menempuh jalan tarikat dan mencapainya akan hakikat, dan semuanya.
Jadi ma’rifat itulah kumpulan ilmu pengetahuan, amal dan ibadah. Kumpulan daripada ilmu, dan filsafat agama. Kumpulan daripada pengamalan dan perasaan atau zauq. Dan kumpulan daripada mantik, keindahan dan cinta.
Jadi syariat itu artinya kenyataan, dan tarikat itu jalan. Sedang hakikat itu artinya: yang sebenarnya, yaitu: Itiqad yang sebenarnya, yang wajib dipercayakan dan takluk ia kepada perbuatan hati.
Hakikat itu ialah kebenaran sejati dan mutlak. Yang padanyalah ujung segala perjalanan bagaimanapun jauhnya. Akhirnya daripada segala langkah tujuan segala jalan. Dan untuknyalah syariat dan undang-undang, dan didalam perjalanan menuju hakikat itu, orang memulai dari dalam dirinya sendirinya. Untuk mengenal Tuhan kenallah diri (diri sendiri). Perjalanan itu dimulai dari dalam kita sendiri dari dalam terus kedalam, akhirnya serba alam dengan keindahannya dan dengan keganjilannya, hanyalah sebagai aksi pencari diri. Disini sering terjadilah cara yang didapat oleh ahli suluk atau ahli perjalanan / tharikat.
Setengahnya karena saking asyiknya, maka dirasainya bahwa diri tiada lagi. Yang ada hanya yang ada atau: LA MAUJUDA BIHAQQIN ILALLAH (hanya Tuhan yang ada sedang makhluk tiada). Yang ada ialah yang AWAL, yang tidak ada permulaan dan yang akhir tidak ada penghabisan.
Adapun diri sendiri dalam alam seluruhnya tidaklah ada; sebab awalnya ADAM, artinya tiada. Dan akhirnya fana dan lenyap: maka apabila jalan itu telah dijalani dengan segenap kesungguhan, ketaatan, dan setia memegang segala syarat dan rukunnya, akhirnya bertemulah kita dengan hakikat yang sebenarnya.
Mula-mula tercapailah kasyaf, yaitu terbukalah rahasia yang senantiasa yang menyelubungi antara kita dengan DIA.
Maka dengan itu terbukalah hijab atau dinding yaitu: dinding-dinding tebal yang memisahkan kita dengan DIA, dan dinding-dinding itu ialah: Hawa nafsu kita sendiri atau yang disebut angkara murka, atau nafsu hewani atau nafsu syaithon. Maka dari itu gunanya kita TAJAHUT, artinya : melepaskan diri dari belenggu segala ikatan atas diri kita sendiri.
Dan apabila rohani kita telah mencapai kesempurnaan, maka otomatis takluklah jasmani kepada kehendak rohani. Pada waktu itu tidak ada miskin lagi, bahkan mautpun sebagai sangkar kecil kepada kebebasan luas mencari kekasih. Dan mereka katakan, mati itu adalah alamat
CINTA sejati dan mutlak. Disini timbullah dalam kata yaitu yang dikatakan hulul. Hulul yaitu: timbul kesatuan diantara asyik dan ma’syuknya. Atau meninggalnya antara asyik ma’syuk atau yang mencintai dengan yang dicintai, sehingga
AKU adalah
DIA, dan
DIA adalah
AKU dan Analhaq. Disini mulailah ada pertingkahan diantara ulama ahli lahir dengan ulama ahli bathin. Tentu saja ada yang menolak dan adapula yang membela. Kata yang membela, orang yang telah mabuk cinta dan rindu, yang diliputi oleh perasaan-perasaan lebih mendalam daripada orang yang hanya menggunakan akal semata dan mantik semata.
(Selanjutnya - Ahli Tasawuf Yang Sejati)
File pdf: