2017-08-30

Pengantar Kitab Misykat Al-Anwar (101 Hadis Ketuhanan) Karya Ibn 'Arabi


Kitab Misykat Al-Anwar (Seratus Satu Hadis Ketuhanan) Karya Ibn 'Arabi

PENGANTAR

Dengan nama Allah yang Rahman dan Rahim.

Yang Anda hadapi ini salah satu karya mistikus besar Spanyol, Ibn 'Arabi, yang di dunia Islam umumnya dikenal sebagai salah satu pemimpin penting tokoh aliran Wahdatul Wujud atau Kesatuan Wujud (Tuhan & Makhluk) atau Union Mistique, yang sering digambarkan dalam ungkapan manunggaling kawula-gusti, Dua hal patut dicatat mengenai pengaruh aliran Wujudiah itu (yang di anlara tokohnya termasuk Al-Hallaj) di Indonesia.

Pertama, dalam sejarah Kerajaan Islam Demak di Jawa dikenal tokoh Seh Siti Jenar alias Seh Lemah Abang, yang juga seorang pantheis dan diceritakan sebagai dihukum bakar oleh para wali yangberkuasa. Prof. Drewes, dalam satu studinya tentang pustaka Serat Cabolek, beranggapan figur Siti Jenar itu tak pernah ada. Ia tokoh karangan yang diciptakan oleh pihak oposisi Demak waktu itu untuk menggambarkan 'kebengisan' penguasa; atau; sebaliknya, tokoh itu bikinan kalangan ulama sendiri sebagai ‘contoh pelajaran' mengenai faham sesat yang harus ditumpas.

Kedua, umum diyakini bahwa Ibn 'Arabi atau aliran Kesatuan Wujud mempengaruhi Penyair-mistikus Hamzah Fansuri di Kerajaan Aceh. Tetapi Syaikh Ar-Raniri (lihat Editor, 29 Agustus dan 12 September 1987 mengganggap Fansuri lebih ekstrim dibanding Ibn 'Arabi. Yang terakhir itu dianggapnya bukan sebagai tokoh Wihdatul Wujud melainkan Widhatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian); yakni bahwa "yang tampak" ialah Allah, pada hal kenyataannya (dalam hal dzat) bukan.

Di atas segala-galanya, sering dianggap Ibn 'Arabi ini "kurang ekstrim"dibanding Al-Hallaj, sementara Abu Yazid Busthami dianggap "lebih safe" lagi: bila ia mengeluarkan ucapan-ucapan yang sering mengidentikkan dirinya dengan Tuhan, itu hanyalah syathath -- omongan-omongan tak sadar, akibat "begitu tuntas dalam zikir kepada Allah". Yang terakhir itu pendapat Ar-Raniri, mistikus besar Aceh yang merupakan musuh Fansuri.

Meski begitu, kitab Misykatul Anwar ini tidak ada hubungannya dengan pandangan wihdah Ibn'Arabi itu. Memang ada satu hadis yang dimuat di dalamnya, yang menyatakan firman Allah lewat lidah RasulNya yang mulia: "... Aku (Allah) akan menjadi tangannya yang ia pakai memegang, akan menjadi kakinya yang ia pakai berjalan", dan seterusnya; tapi hadis itu difahami sebagai suatu kiasan kedekatan hubungan Allah dengan para hambaNya yang salih, juga dipegangi oleh kalangan yang tidak membenarkan pandangan wihdah. Ia misalnya termuat dalam Arba'in an Nawawiyah, himpunan kecil 40 hadis dari Imam Nawawi, yang juga dipakai kalangan madrasah-madrasah Muhammadiyah.

Yang menarik ialah bahwa justru dari kalangan NU timbul sikap hati-hati kepada hadis di atas: Almarhum KH Hasyim Asy'ari, dalam fisalahnya Ad-Durarul Muntatsirah fil-Masailit Tis'i 'Asyarah (Mutiara Lepas dalam Masalah Sembilan Belas), menyodorkan hasil penyidikan lebih mutakhir yang meragukan keotentikan hadis itu. 

Kiai Hasyim, dengan karyanya itu, memang berusaha memberantas kepercayaan berlebih-lebihan kepada'wali'--- dengan mengemukakan kemustahilan kita untuk mengenal wali dan mengeramatkan kuburnya, misalnya, karena "tidak ada yang tahu seorang wali kecuali wali" (laaya'lamul waliyya illal waliy). Dengan kata lain: wali memang ada, tapi orang awam tidak tahu siapa; sedang hadis tentang Allah yang "menjadi telinga si wali" dan seterusnya itu tak usah dipegangi benar. Atau, menurut pengertian kita, andaipun dipegangi hadis itu tidak usah dianggap menunjukkan percampuran Dzat (Allah) dengan dzat (insan).

Sebab, ayat Quran yang menyatakan "Dia lebih dekat kepadanya (manusia) dibanding urat nadi (manusia) sendiri" juga tidak menunjukkan pada kemanunggalan Allah-manusia. Yang lebih dekat dibanding urat nadi kita tentu bukan urat nadi kita, bukan?

Sehingga, ayat "Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar tetapi Allah yang melempar" (wa maa ramaita idz ramaita wa lakinnallaaha ramaa) adalah juga satu kiasan. Yakni bahwa kemenangan muslimin yang sedikit melawan musyrikin yang berjumlah besar dalam perang Badar hakikatnya bukan karena usaha Nabi (semata), melainkan Allah yang menggerakkan seluruh prosesnya. Wallahu a'lam itu pokok pertama.

Pokok kedua, kitab ini hanyalah kumpulan hadis-hadis qudsi -- hadis kudus, yang diyakini sebagai berasal dari Allah tetapi tidak dimaksudkan untuk dihimpun dalam Quran. Bila terasa hadis-hadis ini nanti begitu antropomorphistis (menggambarkan Allah seakan-akan sebagai insan), maka hendaklah diketahui bahwa warna ajaran yang seperti itu memang paling banyak terdapatnya dalam hadis qudsi.

Kemudian, karena rupanya kesenduan dan keakraban yang paling khas lebih mudah memperoleh jalannya dengan mengekstrimkan gambaran tentang Allah sebagai persona, bisa difahami pula bila kalangan sufi paling gemar akan hadis-hadis jenis ini, bahkan -untuk umumnya mereka - kalaupun riwayat-riwayatnya sebenarnya tak bisa terlalu diandalkan. Bagi para mistikus, keindahan suatu sabda maupun firman sering jauh lebih penting dibanding keyakinan tentang otentisitas yang diperoleh lewat proses penelitian cermat yang lugas dan kering.

Dan, memang, sumber-sumber ambilan Ibn Arabi untuk hadis-hadisnya ini mayoritasnya bukan sumber-sumber andalan para ahli hadis. Malahan, dengan memahami 'dorongan alam mistik" seperti yang sudah disebut, Misykat ini memasukkan juga kutipan-kutipan dari yang disebut Kitab Taurat, dan itulah pokok ketiga.

Tetapi itu pun tak mengherankan. Banyak kitab yang dikaji di kampung-kampung, bahkan yang tidak kurang absahnya dari Tafsir Jalain As-Suyuthi atau tak kurang monumentalnya dari Sirah Nabawiyah Ibn Is-haq lewat Ibn Hisyam, yang memuat kutipan-kutipan Taurat - yang sebenarya tak bisa kita ketahui dengan pasti itu - kadang-kadang sebagai penguat, tapi terkadang juga sebagai info yang berdiri sendiri. Sudah tentu, paling sedikit dalam hubungan dengan petikan-petikan Taurat dalam Misykat ini, yang dinukil itu tak ada yang bertentangan isinya dengan ajaran Islam atau sedikitnya dalam perbandingan dengan hadis-hadis dalam keseluruhan kitab ini.

Kenyataan bahwa, seperti pernah dikatakan Hamka, kalangan mistik adalah kelompok yang cenderung menghilangkan dinding-dinding dan menyatukan, sementara (kita tambahkan) kalangan fiqh ataupun theologi cenderung menancapkan dinding pembatas, memang bisa menyata dalam kumpulan ini sebagai salah satu contohnya.

Syahdan, penyiaran terjemahan kitab ini hakikatnya dalam rangka studi. Berjalan pada ufuk ilmiah, alias memperkenalkan kepustakaan yang ada, dan bukan lebih dulu suatu usaha da'wah dalam pengertian sempit alias tuntunan kepada keimanan dan perilaku. Bahwa khazanah penulisan keilmuan Islam demikian kaya, dengan nama-nama besar bagai bintang bersinar-sinar, apa pun aliran mereka janganlah kiranya hanya sebuah dongengan tanpa pengenalan kepada karya-karya mereka sendiri.

Untuk keperluan itu pula, beruntung, Misykat yang kita ambil ini berasal dari terjemahan Prancis oleh Muhammad (d/h Michael Valsan - untuk sekaligus melihat ketakjuban dunia Eropa, yang kiranya boleh diwakili seorang muslim yang sangat tertarik pada dunia tasawuf tapi dengan latar budaya sana - yang, seperti biasanya, penuh kekaguman kepada Timur yang tenang dengan dunia esoterisnya yang eksotis. Semangat pemujaan kepada Ibn Arabi sendiri bisa Anda ikuti dalam pengantar maupun penutup (lampiran) kitab.

Sudah tentu, karena terjemahan Prancis ini terasa ditujukan buat para pembaca nonmuslim Eropa, banyak catatan kaki yang untuk para pembaca muslim kita sama sekali tak diperlukan. Itu kami biarkan. Sebaliknya, apa yang tak penting bagi mereka tetapi penting bagi kita, kita tambahkan - berwujud catatan kaki yang baru, yang untuk membedakannya dari milik sang penerjemah kami bubuhi dengan tanda anotasi yang lain - yang bukan nomor - dan singkatan nama sebagai pernyataan tanggung jawab.

Untuk mempermudah pembacaan, sistem transliterasi huruf Arab ke huruf Latin menurut cara Barat sebagai yang dipakai dalam terjemahan Prancis (misalnya khatm al-vilayat-al-muhammadiyya) kita ubah menurut sistem yang sudah kita pakai beramai-ramai dalam bukan main banyak buku agama produksi kita sendiri - menjadi, misalnya, khatmul wilayatil Muhammadiyah.

Lebih penting dari itu, terjemahan teks Arabnya, yang semula dilakukan ke bahasa kita dari terjemahan Prancis, sudah kita cek kembali dan sesuaikan dengan teks babon yang berbahasa Arab.

Tentu saja kita sangat berterimakasih kepada saudara kita, penerjemah ke bahasa Prancis itu, paling tidak untuk pengetahuan tambahan yang kita dapat dari pemindahan kitab ini ke alam citarasa Barat. Mudah-mudahan amalnya diterima, bersama amal kita semua. Amin.

S.A

KOMENTAR