2017-09-24

Makna Kasyaf dan Musyahadah Bagi Sufi


Syaikh Abdul-Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan:

"Para wali dan wali abdal akan dibukakan sesuatu yang melebihi akal pikiran dan di luar kebiasaan (kharijul-'adah) dari ketentuan-ketentuan Allah SWT. Keterbukaan itu terbagi menjadi dua macam, yaitu terbukanya keagungan (jalal) dan terbukanya keindahan (jamal)."

Menurut Syekh Abdul Qadir, pertama adalah dengan terbukanya keagungan dan kebesaran tersebut akan melahirkan rasa takut, tidak tenang, gelisah, dan cemas, serta akan melahirkan kekalahan terbesar dalam hati dengan perilaku yang tampak dari anggota tubuh. Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah SAW, bahwasanya terdengar dari dada beliau suara berdesis seperti mendesis dan bergolaknya air mendidih dalam ketel. Ini terjadi ketika beliau sedang mengerjakan shalat, karena beliau merasa sangat takut (khauf). Hal itu terjadi karena beliau melihat keagungan Allah SWT dan terbukanya kebesaran-Nya kepada beliau. Peristiwa yang semisal pun-menurut Syekh---terjadi seperti yang berlaku pada Nabi Ibrahim a.s. dan Sayyidina Umar bin Khathab r.a..

Adapun bentuk kedua adalah terbukanya keindahan, yaitu, berhiasnya hati dengan cahaya, kesenangan, kelembutan, pembicaraan yang menyenangkan, dan percakapan yang menggembirakan, serta merasa sukacita dengan pemberian-pemberian (mauhibah) yang bersifat fisik dan kedudukan yang tinggi, juga anugerah yang berupa kedekatan dengan Allah SWT.

Tentu saja, semua itu adalah hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah SWT, dan pena-pena akan kering karena tidak mampu menulis bagian-bagian mereka sepanjang masa, sebagai bentuk anugerah dan kasih sayang dari Allah SWT. Serta sebagai bentuk ketetapan Allah SWT kepada mereka di dunia ini sampai datangnya ajal, yaitu waktu kematian yang telah ditentukan.

Tujuannya agar tidak tersia-sia kecintaan yang disebabkan besarnya kerinduan kepada Allah dan pada akhirnya hanya akan menyia-nyiakan keteguhan perasaan mereka kepada Allah SWT. Hal itu juga akan menyebabkan mereka menjadi binasa dan lemah untuk melaksanakan ibadah sampai mereka didatangi kematian.

Allah SWT memperlakukan seperti itu kepada mereka karena bentuk kelembutan dari Allah, kasih sayang, dan obat bagi mereka. Selain itu, juga untuk mendidik hati mereka dan tempat berpijak bagi mereka. Sesungguhnya Allah SWT Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui, Mahalembut kepada mereka, Maha Belas Kasih dan Maha Kasih Sayang kepada mereka semua.

Diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau SAW pernah berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, berikan istirahat kepada kita dengan iqamah, supaya kita semua dapat melakukan shalat.” Beliau mengucapkan itu karena terbuka penyaksiannya (musyahadah) pada keadaan yang telah saya sebutkan sebelumnya. Karena itu pula, beliau SAW bersabda, “Telah dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.”

---Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Futuhul-Ghayb---

KOMENTAR