2017-12-20

Makna Ihsan


Ikhlas juga dimaksudkan sebagai ihsan. Makna 'ihsan' terpapar dalam sebuah hadis yang amat terkenal, yaitu ketika Jibril as yang menyamar sebagai seorang lelaki datang dan duduk bertemu lutut di depan Nabi saw dalam suatu majlis yang disaksikan para sahabat. Jibril as bertanya apakah makna Islam, Iman dan Ihsan. 

Mengenai 'ihsan', Nabi saw menyatakan ialah "apabila seorang Muslim beribadat ia seolah-olah melihat Allah swt dan jika ia tidak dapat melihatnya, ia mengetahui bahwa Allah swt melihatnya." 

Maksud 'melihat' ialah suatu persaksian yaitu apa jua urusan kita hendaklah ditujukan kepada Allah swt. Demi mendapatkan keridhaan atau disukai Allah swt, maka segala amal perbuatan yang kita buat hendaklah memenuhi perintah-Nya dan mematuhi larangan-Nya. Amalan inilah yang menjadikan kita melakukan sesuatu perbuatan dengan bersungguh-sungguh hingga ia mencapai taraf sempurna (bahasa Arabnya, kamil). 

Bagaimana kita melihat sesuatu itu 'kamil'? 

Satu-satunya makhluk yang telah mencapai derajat atau maqam kamil adalah Rasulullah saw, Segala ilmu dan peristiwa di dunia dan keseluruhan alam telah diperlihatkan (dipersaksikan) Allah swt kepada Baginda. Misalnya, Nabi saw merupakan manusia pertama yang dibedah secara cahaya, diangkat ke langit, diperlihatkan peristiwa terdahulu dan pada hari kemudian. 


Jelaslah apabila hati kita ikhlas / ihsan, maka kita tidak mudah digoda oleh pesona dzahir seperti harta atau kekayaan, seks atau wanita dan pangkat atau tahta. Hal ini menjelaskan betapa relevannya Tasawuf dalam melengkapi seseorang - dari seorang pekerja biasa hingga pemimpin agung - dalam menghadapi dugaan dunia yang dicetuskan oleh Iblis dan pasukannya. Apabila hati telah disucikan dengan ikhlas dan ihsan, segala tindak-tanduk kita akan membawa kebaikan di dunia dan mendapat balasan baik di akhirat. 

Sering kita tidak menyadari DIRI KITA sendiri sedang melakukan syirik atau menyekutukan Tuhan walaupun kita shalat dan menjalankan pelbagai ibadah. Ini berlaku dengan pelbagai keadaan, misalnya seseorang itu senantiasa mengharapkan perbuatannya atau usahanya dengan ganjaran dalam bentuk harta dan pangkat dan bukan keridhaan Allah swt. Syirik sedemikian disebut syirik khafi (syirik yang tidak disadari/tidak ketara). Tetapi syirik yang lebih besar atau syirik jali/kabir ialah bertindak menyekutukan Allah swt secara terang-terangan seperti mengamalkan faham komunis, menyembah berhala, menyatakan Tuhan memiliki ibu bapa dan anak.

KOMENTAR