Barang siapa senantiasa memberikan penafsiran yang baik atas segala yang berkaitan dengan gurunya, tidak fudlul (usil) terhadap kepribadian mereka, dan menyerahkan semuanya kepada Allah Swt
Dan justru lebih fokus untuk memperbaiki dirinya sendiri, selalu mujahadah semaksimal mungkin menundukkan nafsunya, maka murid tersebut akan cepat wushul tercapai tujuannya, dan mendapati yang dia inginkan dengan secepatnya. (Kitab Al Fataawi Al Haditsiyyah hal 55)
Barang siapa kontra kepada gurunya, usil atas urusan pribadi mereka dan memperbincangkannya
Maka murid tersebut sulit mendapati futuhat anugrah Allah Swt, akan suram masa depannya, dan tidak akan berprestasi sama sekali
ومن ثَمَّ قالوا:
Oleh sebab itu ulama sholihin berkata
Barang siapa yang protes pada gurunya (walau cuma di hati) maka tidak akan mendapati keberuntungan selamanya. (Al Fataawi Al Hadiitsiyyah hal 55) lil Imam Ibnu Hajar Al Haitsamiy wafat tahun 974 H.
Murid sejati di hadapan gurunya selalu merasa seperti mayit di sisi orang-orang yang memandikannya. Tidak berani asal bicara dan bergerak.
Tidak mampu berucap karena merasakan agungnya kewibawaan gurunya.
Tidak memasuki/keluar dari tempat/majlis siapapun kecuali atas ijinnya.
Tidak berani bergaul akrab dengan orang lain kecuali atas ijinnya.
Tidak berani menfokus suatu ilmu, bacaan Al Qur'an dan dzikir kecuali atas ijinnya.
Imam Al-Qusyairiy rohimahullah berkata pada bab Menjaga Hati para Guru dan Tidak Kontra dengan Mereka
Aku mendengar Syekh Abd Rohman As-Salamiy berkata:
Sesungguhnya Syekh Syaqiq Al-Balkhiy dan Syekh Abu Turob An-Nakhsyabiy berkunjung pada Syekh Abu Yazid Al-Busthomiy.
Kemudian ada seorang khodim muda menyuguhkan jamuan.
Syekh Abu Yazid berkata pada anak muda tersebut:
"Nak, mari makan bersama kami."
Si pemuda menjawab:
"Saya berpuasa"
Syekh Abu Turob berkata;
"Makanlah, semoga kau mendapati pahala puasa sebulan"
Pemuda tersebut masih belum mau makan.
Syekh Syaqiq berkata;
"Makanlah. Akan kau dapati pahala puasa setahun".
Anak muda tersebut tetap tidak menurut.
Syekh Abu Yazid akhirnya bicara:
"Sudah, abaikan saja orang yang gugur dari pandangan rahmat Allah Swt"
(Dinukil dari kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah hal 151).
Sumber: Habib Muhdor