Bismillahirrahmaanirrahiim
Bersama Siapakah Kalbumu Saat Ini? [“With Whom Is Your Heart?”]
Suhbah Syaikh Muhammad Nazim Al-Haqqani An-Naqsyabandi QS
21 September 1989.
Dan kita memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa Barakah-NYA. Melalui turunnya Barakah-NYA maka kita akan mendapatkan sesuatu juga. Dan aku meminta kepada GrandSyaikh [yakni Mawlana Syaikh Abdullah Faiz ad-Daghistani QS] agar memberikan kepada kita suatu suhbah yang singkat saja tapi tajam – suatu suhbah yang akan terus “menancap” di kalbu-kalbu kita. Jika kita mengandalkan pikiran kita, pikiran – setelah beberapa saat berlalu- akan lupa, tapi kalbu akan mengingat terus.
Pikiran kita bekerja digerakkan oleh ‘pil’ [yakni Bahasa Turki yang artinya batere]. Peralatan kalian yang bekerja menggunakan batere pada suatu saat akan melemah baterenya. Pikiran kita bekerja seperti itu [yakni suatu ketika akan melemah jua]. Tapi kalbu kita adalah milik Allah Yang Maha Kuasa. Allah Yang Maha Kuasa berkata,” Wahai Bani Adam, seluruh anggota tubuhmu untukmu, hanya kalbumu yang untuk KU”. “Kalbu-kalbu kaum beriman merupakan Singgasana-KU. Di Singgasana Kerajaan-KU AKU Bertahta. Singgasana-KU hanya untuk-KU semata. Tak akan AKU biarkan siapapun mendekat dan duduk di Singgasana-KU. Tidak, hanya AKU Seorang yang boleh bersemayam disana. Dan AKU Sangat Pencemburu, yang tak suka ada siapapun di Singgasana-KU”. Ya, tak ada seorangpun yang suka mendapati seseorang tak dikenal berada didalam rumahnya. Tak ada raja atau sultan atau Yang Dipertuan Agung (gelar raja di Malaysia) yang suka mendapati seseorang duduk di singgasananya.
Bagaimana bisa engkau tidak memelihara singgasana yang ada di kalbumu? Kepada siapa kau sewakan - jika tidak kau jual- kalbumu itu? Engkau haruslah memelihara kalbumu. Bagaimana keadaan kalbumu sekarang? Bersama siapa kalbumu? Sedangkan DIA setiap saat memelihara kalbu-kalbu kita. DIA tidaklah memandang rupa penampilan kita. Rupa kita tidaklah penting bagi-NYA. Yang terpenting bagi Tuhan kita adalah kalbu kita. DIA selalu memandang dan bertanya “Sedang bersama siapakah kalbu hamba-KU?” Kalian hendaknya bertanya pada diri sendiri –sedikitnya tujuh kali sehari- “Kalbuku sedang bersama siapakah saat ini?” Sedikitnya kalian harus bertanya seperti itu tujuh kali sehari karena Allah Yang Maha Kuasa Memandang ke kalbu hamba-NYA sebanyak 24.000 kali dalam sehari. “Kalbu hamba-KU sedang bersama siapa? Dengan siapa?” Jika kalian tidak memelihara kalbu kalian sedikitnya tujuh kali sehari, sulit untuk mencapai derajat keimanan yang sempurna ketika kalian meninggal dunia. Artinya, setidaknya tujuh kali dalam sehari kalian haruslah bersama Tuhan kalian, melalui kalbu kalian. Jika melakukannya lebih banyak dari itu, lebih banyak lagi kehormatan yang akan dikaruniakan kepada kalian.
Setiap kali engkau “berjumpa” dengan Tuhan-mu melalui kalbumu, DIA Membusanai-mu [dengan busana kehormatan]. Perjumpaan dengan Tuhan tidaklah ‘digratiskan’ begitu saja [maksudnya pertemuan dengan Tuhan tidaklah tanpa diberi suatu imbalan kebaikan]. Ketika engkau berjumpa dengan Tuhan-mu melalui kalbumu, DIA akan ‘mengupahmu’ – yakni dengan membusanaimu dengan Nur (Cahaya). Sebuah busana cahaya. Memberkahimu dan menjadikanmu lebih dekat ke Hadirat Ilahiyah-NYA.
Jadi, peliharalah diri kalian. Waktu terus berlalu dengan sangat cepat. Kemarin kita masih kanak-kanak, sekarang ini kita sudah dewasa. Esok kita akan ‘pergi’. Ya, waktu sangat cepat berlalu. Sayyidina Rasulullah SAW secara khusus telah memberitahu bahwa ketika makin mendekati hari akhir, waktu akan berlalu sangat cepat. Kita kini sedang hidup dijaman ‘waktu-cepat’ itu. Segalanya serba cepat. Kalian haruslah berlari menempuhnya. Kita semua sedang berlari cepat.
Kita berada dalam kecepatan penuh. Karena itu kehidupan kita berlari dengan kecepatan penuh menuju garis akhirnya. Kita tak dapat menurunkan kecepatan. Semua kita sama berlari cepat. Karena itu, sejauh engkau mampu dalam mendekati, yakni untuk menjadi lebih dekat dengan Hadirat Ilahiyyah, lakukanlah.
AlhamduliLlah, kami senang menemukan adanya beberapa orang yang bertanya tentang apa yang disukai Tuhan dan bertanya bagaimana caranya agar lebih dekat dengan Tuhan mereka. Mereka ini orang-orang yang terdidik, orang-orang yang mengerti. Kami berharap agar hari demi hari hal ini terus menyebar melalui diri kalian, disekitar kalian, untuk menyadarkan orang. Untuk menyadarkan mereka agar mereka memahami tentang kehidupan mereka, mengetahui tentang hakikat dunia ini, untuk mengenal Mawla [Tuhan]. Dan agar sebelum meninggalkan kehidupan didunia ini mereka membuat Mawla Ridho dengan diri mereka. Inilah sesungguhnya Tujuan Utama kehidupan kita didunia ini.
Siapa yang bisa membuat Tuhan-nya ridho kepadanya, maka orang itu telah berbuat sesuatu yang memang diharapkan untuk diperbuatnya sepanjang masa kehidupannya di dunia ini. Apakah ada hal lain yang diharapkan dari seorang manusia selain dari mendapatkan ridho Allah? Aku tidak tahu kalau ada hal lain yang lebih penting dari itu. Kita memohon rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa agar DIA Menjadikan kita berhasil mendapatkan keridhoan-NYA sebelum kita meninggalkan kehidupan didunia ini. Ketika kita meninggal dunia, Tuhan kita Ridho kepada kita, Ridho kepada jiwa kita.
Semoga Allah Mengaruniai kita bagian dari Perbendaharaan-NYA berupa Rahmat dan Anugerah yang tak putus-putusnya, agar kita menjadi hamba-hamba-NYA yang tulus, dan mengikuti jejak langkah Kekasih-NYA Tercinta Muhammad SAW, dalam suatu proses yang berlangsung selangkah demi selangkah. Kita juga memohon tawfiq (keberhasilan) mendapatkan itu semua dari karunia Allah yang tak ada habis-habisnya.
Bi hurmatil Habib, bi hurmatil Faatihah, cukup sampai disini.