2017-10-13

Falsafah Hidup Orang Jawa


Banyak sekali falsafah hidup yang dimiliki oleh orang Jawa. Disini hanya disebutkan beberapa falsafah hidup orang Jawa diantaranya:

Falsafah hidup orang Jawa bahwa hidup manusia di bumi hanya sementara, singgah sebentar ibarat hanya untuk makan dan minum. Oleh karena itu hidup di dunia menurut mereka lebih menonjolkan moralitas dalam hubungannya dengan manusia lainnya karena menurut mereka kebaikan yang dilakukan oleh seseorang di muka bumi akan mengantarkan orang tersebut kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan yang baik seperti awalnya dimana manusia itu dilahirkan juga dalam keadaan yang baik. Konsep tersebut juga dalam kalangan Kejawen dikenal dengan istilah “Sangkan Paraning Dumadi”. Selain itu berbuat baik terhadap sesama juga mendorong terbentuknya suatu keteraturan dalam masyarakat serta terbentuknya kehidupan yang selaras. Dengan mentaati pedoman dalam masyarakat, maka tingkah laku serta hubungan antar manusia akan berjalan secara wajar, yang memungkinkan untuk melakukan aktifitas secara efektif dan efisien.

Salah satu falsafah hidup orang Jawa yaitu sapa nandhur bakalan ngundhuh, dalam ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai siapa yang berbuat ia akan menanggung akibatnya. Sing nandur becik bakal becik undhuh-undhuhane, sing nandur ala bakal ala undhuhundhuhane. Barang siapa menanam kebaikan maka kebaikan pula buahnya, barang siapa menanam keburukan maka keburukan pula buahnya.

Nilai-nilai luhur Jawa yang juga merupakan falsafah hidup orang Jawa dinyatakan ada dua bahaya yang mengancam kehidupan manusia, yaitu nafsu dan egoisme (pamrih). Oleh karena itu seseorang (khususnya orang Jawa) harus dapat mengendalikan nafsunya dan melepaskan pamrihnya. nafsu yang membahayakan dalam masyarakat Jawa disebut dengan Ma lima yang merupakan lima nafsu yang harus dihindari yaitu madat, madon, minum, maling, main. Bertindak berdasarkan pamrih berupa mementingkan dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Pamrih dalam hal ini juga dapat dilihat dari keinginan menang sendiri, menganggap dirinya paling benar, dan mementingkan dirinya sendiri. oleh karena itu nafsu dan pamrih merupakan hal yang harus dihindari dan menjadi pedoman diri seseorang agar bertingkah laku sesuai dengan tuntutan keteraturan sosial.

Dalam masyarakat Banyumasan ada prinsip kerukunan yang dijunjung tinggi dengan filosofisnya yang tinggi, yakni ungkapan tenimbang pager wesi, mendhingan pager tai sehingga melahirkan prinsip aman dan ketentraman dalam bertetangga yang berarti saling menjaga rasa aman dalam kehidupan kolektif.

KOMENTAR