Raja Harun Ar Rasyid memiliki seorang budak yang hitam kulitnya, namanya Khalisah. Pada suatu saat Abu Nawas bertamu kerumah raja. Disana Abu Nawas menyanjung raja dengan bait-bait syairnya yang indah. Si budak hitam itu duduk di sanding raja. Sementara intan permata di tubuh budak itu amat menakjubkan pandangan orang-orang disana. Raja justru tak menatap wajah Abu Nawas sama sekali (malah fokus menatap si budak hitam itu). Maka Abu Nawas tersinggung atas sikap itu dan di pintu rumah raja ia tulis bait syair saat ia keluar rumah raja. Bunyi syairnya:
لقد ضاع شعري على بابكم
كما ضاع در على خالصة
Sia-sialah syairku di pintu rumahmu persis seperti sia-sianya intan permata di tubuh Khalisah.
Setelah raja di beritahukan bahwa di pintunya di tulis bait itu, si raja marah sekali dan langsung perintahkan orang untuk memanggil Abu Nawas. Sesampainya di pintu raja, Abu Nawas langsung menghapus cekungan huruf ain dari لفظة أضاع sehingga menjadi ضاء = menjadi terang.
Para hadiran saat itu langsung berkomentar,
Itu adalah syair yang di congkel kedua matanya ternyata bisa melihat