Nama sebenarnya Nabi Khidir ialah
Balya Bin Malkan Bin Faligh Bin ‘Abir Bin Syalikh Bin Arfakhsyaz Bin Sam Bin Nabi Nuh. Dan Gelarnya ialah
Abu Al’ Abbas. Beliau Juga dikenal dengan panggilan Khidir Karena Dua Sebab.
Sebab Pertama -
Rasulullah SAW Bersabda: “Ia dinamakan Khidir Karena ketika Ia duduk di atas rumput tiba-tiba memancar cahaya hijau dari arah belakangnya (Hadits Abi Hurairah yang diriwayatkan Oleh Bukhari).
Sebab Kedua -
Al-Khattaby Berkata : Dia dinamakan Khidir Karena wajahnya tampan dan berseri-seri (Al-Bidayah Wal Nihayah-Ibnu Katsir 1/327).
Malkan adalah ayahanda dari Nabi Khidir adalah seorang Raja yang sangat berpengaruh dan terkenal dengan kekejamannya. Ketika Nabi Khidir masih kecil, beliau diantar belajar kepada seorang guru yang berakhlak mulia. Di antara rumah guru dan istana Malkan, ada seorang ahli ibadah yang mana Nabi Khidir sangat tertarik dengannya. Maka beliau belajar dan tinggal bersama seorang yang ahli ibadah itu. Gurunya beranggapan bahwa Nabi Khidir berada di istana Raja Malkan. Sedangkan, Raja Malkan juga beranggapan bahwa Nabi Khidir berada di rumah gurunya. Tetapi sebenarnya, Nabi Khidir tinggal dan belajar secara tidak resmi dengan seorang yang ahli ibadah itu.
Setelah Nabi Khidir beranjak dewasa, pembesar-pembesar istana mempersiapkan supaya beliau segera dinikahkan supaya mendapatkan keturunan atau generasi penerus Kerajaan Raja Malkan. Kemudian Raja Malkan menawarkan dan menyuruh Nabi Khidir membina rumah tangga. Namun Nabi Khidir enggan menerima tawaran tersebut. Setelah berulangkali disuruh oleh ayahandanya, akhirnya Nabi Khidir setuju dan menikah dengan seorang Puteri Raja.
Setelah agak lama menjadi pasangan suami isteri, maka Nabi Khidir memberitahu isterinya: ”Aku beritahu kepadamu tentang suatu rahasiaku, jika kamu rahasiakan, kamu akan selamat di dunia dan di akhirat tetapi jika kamu bocorkan rahasiaku ini, kamu akan disiksa di dunia dan di akhirat.” Isterinya bertanya ”Apakah rahasia itu ?” Nabi Khidir menjawab: “Sesungguhnya aku ini seorang lelaki yang beragama Islam. Bukan seperti ayahku dan aku tidak memerlukan perempuan dalam hidupku. Oleh karena itu, jika kamu setuju hidup bersamaku dan mengikuti agamaku. Maka, kita boleh terus hidup bersama. Dan sekiranya, kamu tidak setuju dengan Ku, Maka aku membolehkan kamu pulang ke rumah keluargamu.” Isteri Nabi Khaidir menjawab ”Aku akan terus setia bersamamu.”
Setelah lama berumah tangga dan tidak mempunyai anak maka pembesar negara dan orang banyak bertanya kepada Raja Malkan. ”Bahwasanya anak kamu itu sebenarnya mandul dan tidak dapat memperolehi anak.” Lantas Raja Malkan bertanya kepada Nabi Khidir: ”Telah lama kamu menikah tetapi hingga hari ini kamu masih belum mempunyai anak.” Jawab Nabi Khidir: ”Hal ini bukan di bawah kekuasaanku tetapi di bawah kekuasaan Tuhanku Allah swt. Dia mengaruniakan anak kepada siapa yang dikehendakinya.” Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh Raja Malkan kepada isteri Nabi Khidir. Jawaban yang diperoleh daripada isteri Nabi Khidir adalah sama sebagaimana yang diperoleh daripada Nabi Khidir.
Setelah sekian lama telah menikah tetapi masih belum dikaruniai anak, Raja Malkan menyuruh Nabi Khidir menceraikan isterinya. Nabi Khidir enggan berbuat demikian pada mulanya tetapi Raja Malkan terus memaksa Nabi Khidir dan akhirnya Raja Malkan memisahkan antara Nabi Khidir dan isterinya. Kemudian secara paksa, Raja Malkan menikahkan Nabi Khidir dengan seorang janda muda yang telah mempunyai anak dengan harapan mudah-mudahan perkawinan ini nanti akan membuahkan hasil, yaitu mempunyai anak untuk meneruskan keturunan dan kerajaan Raja Malkan.
Malangnya keadaan yang sama terjadi. Setelah lama menikah, mereka masih belum dikaruniai anak. Apabila Nabi Khidir ditanya tentang hal ini, jawabannya sama seperti dahulu. Kemudian Raja Malkan bertanya kepada isteri kedua Nabi Khidir: ”Kamu ini adalah janda muda yang sudah mempunyai anak sebelum menikah dengan anakku, kenapa pula kamu tidak memperoleh anak setelah menikah dengannya?”
Isteri kedua Nabi Khidir pun menjawab: ”Semenjak kami menikah hingga sekarang, saya tidak pernah disentuh sama sekali oleh beliau.” Kemudian isteri pertama Nabi Khaidir dipanggil dan ditanya, jawabannya sama belaka. Nabi Khaidir dipanggil oleh Raja Malkan dan dimarahi dengan bahasa yang kesat serta kasar. Sehingga hati Nabi Khidir terasa. Justru itu, Nabi Khidir berasa tidak bahagia, tidak selesa dan tidak tenteram untuk tinggal di istana Raja Malkan. Akhirnya Nabi Khidir meninggalkan istana Raja Malkan dan pergi merantau.
Raja Malkan, ayahanda dari Nabi Khidir sangat sedih dan menyesal dengan kejadian itu. Justru Raja Malkan mengerahkan 100 orang mencari Nabi Khidir ditempat yang berlainan, sebelah utara, selatan, timur dan barat. Mereka berpencar mengikuti kumpulan. Akhirnya, sekumpulan sepuluh orang berhasil menemui Nabi Khidir di sebuah pulau yang kecil dan terpencil.
Nabi Khidir berkata kepada kumpulan 10 orang ini. ”Aku akan katakan sesuatu yang bila kamu rahasiakan, kamu akan selamat di dunia dan akhirat. Tetapi jika kamu bocorkan rahasia ini, kamu akan disiksa di dunia dan diakhirat.” Mereka kumpulan 10 orang bertanya ”apakah rahasia itu?’ namun Nabi Khidir bertanya lagi kepada mereka ”Adakah orang lain yang mencari aku selain daripada kamu sekalian yang bersepuluh.” ”Ya, ada” jawab mereka. Nabi Khaidir terus berkata ”Jika kamu merahasiakan pertemuan kita ini dari ayahandaku tentang pertemuan kita di pulau kecil ini. Sebabnya, jika kamu beritahu ayahandaku tentang pertemuan kita ini, nanti aku akan dibunuh dan kamu juga akhirnya akan dibunuh selepas itu,”
Namun setelah kumpulan sepuluh pekerja istana ini pulang ke istana Malkan dan bertemu Raja Malkan, sembilan daripada mereka jujur kepada Raja Malkan dengan memberitahu bahwa mereka telah bertemu Nabi Khidir. Manakala, hanya seorang yang merahasiakan pertemuan tersebut daripada Raja Malkan. Sembilan yang mengaku bertemu Nabi Khidir dikerahkan untuk mencari dan membawa pulang Nabi Khidir ke istana. Malangnya, Nabi Khidir tidak ada di pulau kecil tersebut karena beliau telah merantau ke tempat yang lain. Semua sembilan orang pekerja istana ini pulang dengan tangan kosong dan mati dihukum pancung oleh Raja Malkan. Yang seorang lagi selamat karena dia menjaga rahasia dan telah melarikan diri dari istana Raja Malkan.
Isteri kedua Nabi Khidir si janda muda itu juga turut di hukum mati karena menjadi pencetus kepada kekacauan yang berlaku dalam istana Raja Malkan. Karena takut dibunuh oleh Raja Malkan, bekas isteri pertama Nabi Khidir, si puteri raja lari meninggalkan istana Raja Malkan bersama-sama pekerja istana yang menjaga rahasia.
Akhirnya mereka berdua bertemu di perantauan dan mereka berjanji untuk menutup rahasia masing-masing. Mereka akhirnya bertemu jodoh dan menikah. Mereka merantau ke Mesir dan bekerja dengan Raja Fir’aun di sana. Si isteri bekerja sebagai pengasuh anak perempuan Fir’aun. Dalam sejarah dia dikenali dengan nama Mashitah (tukang sikat rambut). Sementara, suaminya pula bekerja sebagai tukang kayu, namanya ialah Hizqil (pembuat kotak yang menghanyutkan Nabi Musa as ketika bayi di dalam sungai Nil).
Kisah Nabi Khidir Berumur Panjang
Bahwa Nabi Khidir itu berumur panjang dan masih hidup sampai sekarang masih diyakini sebagian besar kaum muslimin pada umumnya, khususnya umat muslimin Islam tradisional di Indonesia. Kisah-kisah tentang Nabi Khidir ini terus menarik perhatian semua orang karena keunikannya.
Berikut ini di tuturkan kisah asal mula Nabi Khidir bisa berumur panjang, walau semua itu tidak lepas dari kehendak Allah SWT.
Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-tsalabi dari Imam Ali, yang bermula dari Raja Iskandar Zulkarnain yang disebut The Great Alexander (Iskandar yang agung). Sebutan The Great Alexander kepada Raja Iskandar Zulkarnain karena beliau adalah seorang kaisar yang mampu menaklukkan dunia barat dan timur. Beliau disegani dan ditakuti orang di seluruh dunia pada zamannya. Walau demikian, posisi ini tidak menjadikan beliau sombong, beliau adalah salah seorang raja yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Suatu ketika raja Iskandar Zulkarnain pada tahun 322 SM berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi (istilah ke tepi bumi ini disebut orang sebelum Columbus menemukan benua Amerika pada tahun 1492 pada saat itu anggapan orang bumi itu tidak bulat). Allah mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rafa’il untuk mendampingi Raja Iskandar Zulkarnain.
Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang dan raja Iskandar Zulkarnain berkata kepada malaikat Rafa’il: “wahai malaikat Rafa’il ceritakanlah kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit.” Malaikat Rafa’il berkata: ”ibadah para malaikat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya. Ada yang sujud tidak mengangkat kepala selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya.” Mendengar keterangan ini Raja termenung. Dalam benaknya timbul keinginan bisa melakukan hal yang sama seperti malaikat. Niatnya hanya satu agar dapat beribadah kepada Allah. Lalu malaikat Rafa’il berkata: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air di bumi, namanya Ainul Hayat yang artinya sumber air hidup, maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia memohon kepada Allah agar supaya dimatikan.”
Kemudian raja bertanya kepada malikat Rafa’il:” apakah kau tahu dimana tempat Ainul Hayat itu.” Malaikat Rafa’il menjawab: “Bahwa sesungguhnya Ainul hayat itu berada di bumi yang gelap.” Setelah raja mendengar keterangan dari malaikat Rafa’il tentang Ainul hayat, maka raja segera mengumpulkan alim ulama pada zaman itu. Raja bertanya kepada mereka tentang Ainul hayat itu tetapi mereka menjawab: kita tidak tahu kabarnya, namun ada seorang yang alim di antara mereka menjawab: ”sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat nabi Adam AS, beliau berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan Ainul Hayat itu di bumi yang gelap.” Dimanakah tempat bumi yang gelap itu? Tanya raja. Dan dijawab, yaitu di tempat keluarnya matahari.
Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya: “kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap? Dan sahabat menjawab, yaitu kuda betina yang perawan. Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang masih perawan, lalu raja memilih di antara tentaranya yang sebanyak 6000 orang dipilih yang cendekiawan dan yang ahli mencambuk.
Di antara mereka adalah Nabi Khidir AS berjalan di depan pasukannya. Setelah menempuh perjalanan jauh maka mereka jumpai dalam perjalanan, bahwa tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat. Kemudian mereka tidak berhenti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai di tepi bumi yang gelap itu, ternyata gelapnya itu seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.
Kemudian seorang yang sangat cendekiawan mencegah raja masuk ke tempat gelap itu dan tentara-tentaranya berkata kepada raja. “Wahai raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk ke tempat gelap ini karena tempat ini gelap dan berbahaya“. Raja berkata: “Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak“. Kemudian raja hendak masuk, maka mereka semua membiarkannya siapakah yang berani membantah perintah maharaja yang disegani dunia barat dan dunia timur. Kemudian raja berkata kepada pasukannya: “Diamlah, kalian di tempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang kepada kalian dalam masa 12 tahun itu maka kita pulang bersama, jika aku tidak datang selama 12 tahun maka pulanglah kembali ke negeri kalian.
Kemudian raja berkata kepada Malaikat Rafa'il: “Apabila kita melewati tempat yang gelap ini apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?“. “Tidak bisa kelihatan“, jawab Malaikat Rafa'il: “Akan tetapi aku memberimu sebuah mutiara, jika mutiara itu ke atas bumi maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras dengan demikian maka teman-teman kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian”. Kemudian Raja Zulkarnain masuk ke tempat tersebut dengan didampingi oleh Nabi Khidir. Disaat mereka jalan Allah memberikan wahyu kepada Nabi Khidir As, “Bahwa sesungguhnya Ainul Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan Ainul Hayat itu Aku khususkan untuk kamu“. Setelah Nabi Khidir menerima wahyu tersebut kemudian beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian“.
Lalu beliau berjalan menuju ke sebelah kanan jurang maka didapatilah oleh beliau sebuah Ainul Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidir turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun dari kudanya dan beliau langsung melepas pakaiannya dan turun ke “Ainul Hayat“ (sumber air hidup) tersebut, dan beliau terus mandi dan minum sumber air hidup tersebut maka dirasakan oleh beliau airnya lebih manis dibanding madu. Setelah beliau mandi dan minum Ainul hayat tersebut terus menemui Raja Iskandar Dzulkarnain sedangkan raja tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Nabi Khidir As yaitu pada saat Nabi Khidir melihat Ainul Hayat dan mandi.
Raja Iskandar Zulkarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak oleh Raja sinar seperti kilat maka terlihat oleh Raja, bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh Raja suara gemericik di bawah kaki kuda. Kemudian Raja berkata kepada Malaikat Rafail “Suara apakah yang gemerincing di bawah kaki kuda tersebut?“, Malaikat Rafail menjawab: “gemericik adalah suara benda apabila seseorang mengambilnya niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya niscaya ia akan menyesal juga. Suara gemericik itu membuat orang jadi penasaran namun semua orang ragu-ragu dalam menentukan sikapnya, mengambil benda itu atau tidak?. Kemudian diantara pasukan ada yang mengambilnya namun hanya sedikit setelah mereka keluar dari tempat yang gelap itu ternyata bahwa benda tersebut adalah permata Yakut berwarna merah dan Jambrut yang berwarna hijau; maka menyesalah pasukan yang mengambil itu karena mengambilnya hanya sedikit, apalagi para pasukan yang tidak mengambilnya pasti lebih menyesal lagi kenapa mereka begitu bodoh tidak mengambil permata yang mahal harganya itu.
Demikianlah kisah asal mula Nabi Khidir berumur panjang. Bukti bahwa Nabi Khidir berumur panjang adalah dari adanya kisah-kisah yang menyebutkan bahwa beliau sudah ada sejak zaman Nabi Musa As, lalu beliau juga pernah bertemu dengan Rasullullah SAW dan bahkan pernah berguru Ilmu Fiqih kepada Imam Abu Hanifah.