2017-12-23

Kisah Nabi Khidir Tentang Asmaul Muhibbin


Dikisahkan pada satu hari Sayyiduna al-Khidir (Balya bin Malkan) memohon kepada Allah Ta'ala agar diberitahu tentang Asmaul Muhibbin (nama para pecinta sejati) kemudian Allah menurunkan kertas bercahaya di mana tercatat nama-nama para pecinta Allah. Beberapa hari Kemudian Sayyiduna al-Khidir masuk ke sebuah masjid, beliau melihat ada seorang ulama yang namanya masuk nominasi Asmaul Muhibbin sedang memberikan kajian Islam di hadiri ratusan orang. Tidak jauh dari majlis ilmu tersebut, Sayyiduna al-Khidir melihat seorang pemuda yang sedang diam termenung di salah satu sudut masjid, lantas al-Khidir menghampirinya dan berkata; wahai pemuda marilah kita ikuti ta'lim yang di sampaikan ulama besar!! Pemuda itu menjawab; tinggalkan diriku di sini, jangan ganggu urusanku. Mendengar jawaban pemuda itu, lagi-lagi al-Khidir mengajak pemuda itu dan pemuda itu menolak ajakan itu yang kedua kalinya dan berkata: bila sekali lagi kau paksa aku hadir pengajian ulama di sana, maka aku akan umumkan kepada mereka bahwa kamu adalah al-Khidir!! Tiba-tiba Sayyidina al-Khidir terheran-heran, dalam hatinya terbesit pertanyaan: Bagaimana bisa orang yang namanya dicatat sebagai muhibbin (para kekasih  Allah) tidak dapat mengenal diriku,  sedangkan orang yang namanya tidak tercatat justru benar-benar mengenaliku? 

Sayyiduna al-Khidir bertanya kepada Allah, mengapa bisa begitu adanya Ya Allah? Allah mejawab; wahai al-Khidir, yang kau minta diberi tahu adalah catatan nama-nama al-Muhibbin dan Aku tidak beri tahu kepadamu Asmaul Mahbubin (orang-orang yang dicintai) ketahuilah pemuda itu bagian dari al-Mahbubin!!

Sungguh sangat bedanya, antara maqam al-Muhibbin dan al-Mahbubin sebagaimana maqam at-Thalib (meminta) dan al-Mathlub (yang diberi tanpa meminta). Pangkat Nabi Musa alaihis salam sebagai Thalib waktu beliau ingin melihat Allah sedangkan Nabi Muhammad di dalam Isra dan Mi'raj mendapat pangkat Mathlub.

Berupaya benar-benar mencintai adalah proses untuk menjadi orang yang dicintai.

Dikutip ulang dari Kitab Ittihaful Amajid bi Nafaisil Fawaid karya Abu Mun'yah as-Sakunjiy at-Tijaniy jilid 2 halaman 65.

KOMENTAR