2017-09-07

Dangding Mistis Haji Hasan Mustapa

Rasaning tembang jatnika,
hariring teu maké péling,
haleuang teu maké hayang,
heuleut beurang heuleut peuting,
kakuping teu kakuping,
ngungkung sajeroning kurung,
kurunganana raga,
raga raganing aing,
ligar kembang caang siang sakahayang

Rasanya tembang sempurna,
senandung tanpa petuah,
nyanyian tanpa kehendak,
lalu siang lalu malam,
terdengar tak terdengar,
mengalun di dalam sangkar,
sangkarnya ialah raga,
raga diraga daku,
nebar kembang terang siang sejadinya

(Haji Hasan Mustapa, Sinom Barangtaning Rasa)


Esai ini semula disampaikan dalam Seri Kuliah Umum Islam dan Mistisisme Nusantara: Dangding Mistis Hasan Mustapa, di Teater Salihara, 04 Agustus 2012. Esai ini adalah versi revisi atas makalah Hawe Setiawan yang berjudul, “Cangkang Suluk: Dangding Haji Hasan Mustapa sebagai Wadah Mistisisme Islam”. Makalah semula disampaikan dalam seminar mengenai karya-karya Haji Hasan Mustapa (HHM) yang diselenggarakan melalui kerja sama UIN Sunan Gunung Djati dengan Pusat Studi Sunda dan Universitas Monash, Australia, di kampus UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, 2009. Hawe berutang budi kepada Dr. Julian Millie dari Universitas Monash atas dorongannya kepada Hawe untuk menulis karya-karya Haji Hasan Mustapa.

Bentuk puisi yang dimaksud di sini dikenal dengan sebutan dangding atau guguritan, yakni puisi terikat yang tumbuh dalam tradisi sastra Sunda sebagai salah satu hasil pergaulan budaya antara masyarakat Sunda dan masyarakat Jawa. Di jagat sastra Sunda dewasa ini, dangding masih hidup meski sebagian besar penyair Sunda kini mencurahkan sebagian besar perhatian mereka dalam pembuatan puisi bebas. Adapun Haji Hasan Mustapa (HHM, 1852-1930), yang dangding-dangdingnya akan dibicarakan di sini, adalah tonggak penting dalam sejarah dangding, terutama karena dangding-dangdingnya dirasakan oleh publik sastra Sunda sebagai puisi yang mengandung mistisisme Islam—karakteristik yang hingga kini belum menemukan tandingannya dalam dangding-dangding mutakhir. Dengan membicarakan dangding-dangding mistis HHM, esai ini sekadar berupaya mengajak publik sastra yang lebih luas untuk berkenalan dengan salah satu pencapaian yang patut dihargai di dalam sastra Sunda, yaitu jagat sastra yang mengandalkan bahasa Sunda sebagai saluran ungkapannya.

Dangding Haji Hasan Mustapa

Pengalaman mistik itu sendiri hanya dapat dipahami atau dihayati sepenuhnya oleh sang mistikus. Sementara kata-kata dan perkakas linguistik lain yang ia andalkan dalam proses menulis puisi pada dasarnya selalu merupakan perkakas yang kemampuannya terbatas. Kata-kata yang terdapat dalam kamus, yang hanya mengandung pengertian umum, selalu bermasalah manakala hendak diandalkan untuk menyampaikan pengalaman, penglihatan atau perasaan yang amat spesifik. Pada titik inilah penyair, terlebih-lebih penyair mistik, tergerak untuk mencari dan menemukan idiom serta metafora—dengan kata lain, mengatasi keterbatasan bahasa sehari-hari, dan dengan demikian sedikit banyak memperbaharui bahasa itu dengan caranya sendiri.

Danding-dangding HHM yang akan dibicaran di sini ditulis dalam bahasa Sunda dengan menggunakan aksara Arab kemudian dialihaksarakan oleh filolog. Ada pula dangdingnya yang ditulis dalam bahasa Jawa, yakni dangdanggula berjudul Mila ningsun mider anderpati. Baru sebagian kecil di antaranya yang telah dialihaksarakan ke dalam aksara Latin. Ada sembilan dangding, yang dialihaksarakan dari naskah koleksi UB, dalam Naskah Karya Haji Hasan Mustapa susunan Iskandarwassid dkk. Kesembilan guguritan tersebut adalah Nu Pengkuh di Alam Tuhu, Alam Cai Alam Sangu, Jung Indit deui ti Bandung, Gaduh Panglipuran Galuh, Asmarandana nu Kami, Hariring nu Hudang Gering, Koléang Kalakay Kondang, Kidung Pucuk Mégamendung dan Ngelmu Suluk Isuk-isuk. Sementara buku Haji Hasan Mustapa jeung Karya-karyana karya Ajip Rosidi memuat lima dangding—satu di antaranya sama dengan yang terdapat dalam Naskah Karya Haji Hasan Mustapa: Puyuh Ngungkung dina Kurung, Hariring nu Hudang Gering, Dumuk Suluk Tilas Tepus, Sinom Pamake Nonomandan Amis Tiis Pentil Majapait. Sementara itu ada sejumlah dangding HHM lainnya, juga dari koleksi UB, yang sudah ditransliterasikan oleh filolog Ruhaliah dan diterbitkan pada tahun 2009.

Di sejumlah tempat tampak kreativitas HHM menjadikan penyerapan istilah Arab ke dalam tata bahasa Sunda tidak terasa janggal, seperti dalam kinanti Puyuh Ngungkung dina Kurung (PNgdK) berikut ini:

La ilaha ilallahu,          La ilaha ilallahu,
pokpokan nu beurat lain,           ujaran nan ringan adanya,
ilallahnu beurat enya,                 ilallah nan berat sungguh,
Allahuméh taya lain,             Allahu nyaris tiada lain,
hubitu ngan kari enya,                       hu pecah tinggal benar adanya,
hakéki ngan kari budi                  hakikat tinggal semata budi

Perhatikan ungkapan “hu bitu” yang luar biasa. Kata ganti orang ketiga tunggal Arab hu(wa), yang jika dilekatkan pada subyek menjadi kata ganti posesif, diserap menjadi kata yang berdiri sendiri serta membangun purwakanti dengan kata bitu.

Untuk menunjukkan karakteristik mistis dari dangding-dangding HHM, dalam kinanti HHM yang disebut melalui larik awalnya, yakni Dumuk Suluk Tilas Tepus (Berdiam Suluk Setuntas Lacak) (Haji Hasan Mustapa, 161-177).

Dumuk adalah verba yang menunjukkan tindak berdiam atau berada di tempat tertentu, sementara suluk adalah sejenis tembang yang biasanya diiringi petikan kecapi atau instrumen lainnya seperti nyanyian dalang sebelum mementaskan wayang, adapun tilas tepus merupakan ungkapan sehari-hari yang menunjukkan tuntasnya pencarian, pelacakan atau upaya tertentu. Dengan memilih dangding ini, siapa tahu, sedikit banyak dapat tergambar pokok renungan yang cenderung terkandung dalam dangding-dangding HHM pada umumnya. Dangding ini terdiri atas 100 bait, dan—sebagaimana lazimnya kinanti—tiap-tiap baitnya terdiri atas enam larik.

Sejauh yang dapat saya tangkap, dangding ini sepertinya merupakan alegori mengenai pengalaman mencari dan menghayati hal yang hakiki atau hal yang asali. Dalam dangding ini, hal tersebut terisyaratkan antara lain melalui idiom hakeki, jati, kawitining jadi, alam pasti, alam sirna, bali geusan ngajadi (istilah yang disebutkan terakhir ini berasal dari idiom umum yang biasa digunakan untuk menunjuk kampung halaman atau tanah kelahiran). Hal yang hakiki itu dibedakan dari lawannya, yakni paesan jati, alam jasmani dan sebagainya.

Jika kita kembali pada kinanti Puyuh Ngungkung dina Kurung (PNgdK), kita dapat memetik sebait contoh yang variannya juga cukup banyak:

apanjang neangan kidul,           Sepanjang mencari selatan,
kalér deui kaler deui,             senantiasa utara dijumpa,
sapanjang néangan wetan,     sepanjang mencari timur,
kulon deui kulon deui,           senantiasa barat didapat,
sapanjang neangan aya,       sepanjang mencari ada,
euweuh deui euweuh deui      senantiasa tiada didapat

Sinom Barangtaning Rasa sebagai berikut:

Sampurna alaming rasa,              Sempurnalah alam rasa,
lali kana pancakaki,             lupa pada silsilah,
kakina panceranana,                 asal mula pijakannya,
panarik alaming pasti,                  penarik alam nan pasti,
pastina kapilali,                       pasti terlupa adanya,
ka luhur ka Sang Rumuhun,              ke atas ke Sang Rumuhun,
ka handap ka Sang Batara,               ke bawah ke Sang Batara,
Batara Wisnu sajati,                Batara Wisnu sejati,
jati waras kasampurnaning sorangan.    jati waras sempurnanya diri.
(28)

Untuk mengakhiri uraian ini, perkenankan saya memetik dua bait puisi dari asmarandana Hariring Nu Hudang Gering (HnHG):

Dinyarana kuring santri,         Sangka mereka aku santri,
sapedah bisa ngajina,              hanya karena bisa mengaji,
dinyarana alim kahot,                  sangka mereka alim kawakan,
pedah getol ngawurukna,    karena getol menggurui,
dinyarana bijaksana,             sangka mereka bijaksana,
sapedah mulus rahayu,                  hanya karena selamat sejahtera,
puguh sagala turunan.      jelas segala keturunan.
(126)

... ...

Barodona alam nyantri,         Bodohnya alam menyantri,
tacan kitab tacan Quran,      belum kitab belum Quran,
tacan daraek masantren,           belum mau masuk pesantren,
tacan agama drigama,             belum agama belum hukum,
kaula era paradah,      sungguh aku malu,
sirung ngamomore dapur,        tunas mengabaikan rumpun,
dapuran kamanusaan.     rumpun kemanusiaan.
(127)

Oleh: Hawé Setiawan*
*Peneliti sastra Sunda dan pengajar di Universitas Pasundan, Bandung. Sebelumnya ia adalah wartawan.

KOMENTAR