- Al-Quthb Anfas Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Asseqaff,
- Al-Allamah Al-Habib Aqil bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali bin Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin Abdurrahman Asseqaff,
- Al-Allamah Al-Habib Abdurrahman bin Syekh Maula Aidid Ba’Alawy,
- Al-Allamah Al-Habib Sahl bin Ahmad Bahasan Al-Hudaily Ba’Alawy
- Al-Mukarramah Al-Habib Muhammad bin Alwy bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin Abdurrahman Asseqaff
- Syaikh Al-Habib Abu Bakar bin Imam Abdurrahman bin Ali bin Abu Bakar bin Syaikh Abdurrahman Asseqaff
- Sayyid Syaikhan bin Imam Husein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
- Al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
- Sayyidi Syaikh Al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Syaikh Al-Arif Billah Ahmad bin Quthbil Aqthab Husein bin Syaikh Al-Quthb Al-Rabbani Abu Bakar bin Abdullah Al-Idrus
- Syaikh Al-Faqih Al-Sufi Abdullah bin Ahmad Ba Alawy Al-Asqo
- Sayyidi Syaikh Al-Imam Ahmad bin Muhammad Al-Qusyasyi
- Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Quthb Da’watul Irsyad Abdullah bin Alwy Al-Hadad, dari gurunya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Muhammad bin Aqil bin Ahmad bin Syihab, dari ayahnya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Aqil bin Amad bin Syihab, dari ayahnya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Ahmad Syihabuddin, dari gurunya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Abdurrahman, dari gurunya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Ahmad, dari gurunya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Ali bin Abu Bakar Sakran, dari gurunya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthab wal Ghauts Abdullah bin Abu Bakar Al-Idrus, dari gurunya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthab wal Ghauts Abdurrahman bin Muhammad As-Seqaf, dari ayahnya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthab Muhammad Mauladdawilleh, dari ayahnya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Ali bin Alwy Maula Darak, dari ayahnya;
- Sayyidil Al-Habib Imam Al-Quthb Aqthab wal Ghauts Alwy Al-Ghayur, dari ayahnya;
- Sayidina Ustadz Al-‘Azhom Sulthanul ‘Auliya wal Ulama wal Arifin Al-Quthbil Aqthab wal Quthbil Ghauts Jami’ Al-Faqih Al-Muqaddam Al-Imam Muhammad bin Ali Ba’Alawy Al-Huseini Al-Hasani Alawiyyin Al-Fathimiy Al-Muhammadiy Al-Hasyimy ash-Shiddiq, dari ayahnya;
- Sayidina Al-Imam Ali, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Muhammad shahib Marbath, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Ali Kholi’ Qosam, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Alwy, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Muhammad, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Alwy Ba’Alawy, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Ubaidillah, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Ahmad Al-Muhajir, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Isa an-Naqib, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Muhammad an-Naqib, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Ali al-Uraidhi, dari ayahnya;
- Sayidina Sulthanul ‘Auliya wal ‘Ulama al-Imam Ja’far Shadiq, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Muhammad Al-Baqir, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Ali Zainal Abiddin, dari ayahnya;
- Sayidina al-Imam Husein As-Sibth, dari ayahnya;
- Sayidina Amirul Mu’minin al-Imam Ali bin Abi Thalib ibin Sayidatuna Fathimah Az-Zahrah al-Batul, dari ayahnya;
- Sayidina Mursalin wal Khatamin Nabiyyin al-Musthafa Muhammad SAW.
- Tuntutlah ilmu dari orang-orang yang benar-benar mewarisi ilmu dari Rasulullah SAW, yang sanad isnadnya (silsilah ilmunya sampai Rasulullah) terpercaya karena menuntut ilmu agama itu wajib bagi setiap orang Islam baik laki-laki maupun perempuan. Barang siapa meninggalkannya ia akan berdosa. Karena tanpa ilmu agama, amal ibadah akan tertolak, tidak diterima oleh Allah SWT.
- “Setiap orang yang beramal tanpa dibarengi dengan ilmu pengetahuan (tentang amalnya itu) maka amalan-amalannya tertolak dan tidak diterima.”
- Tidak ada di zaman ini (abad 12 H) yang lebih mudah dan baik daripada Thariqah Ba’Alawy yang telah diakui oleh ulama Yaman dan disepakati oleh ulama Haramain (dua Tanah Haram – Mekkah Madinah).Thariqah Ba’Alawy (Alawiyah) adalah Thariqah Nabawiyah.
- Thariqah Kepemimpinan adalah thariqah kami Ba’Alawy, dan ini thariqah spesial, dan yang dimaksud thariqah kepemimpinan adalah ikut dan tunduk serta pasrahnya seorang murid terhadap jejak langkah guru yang membimbing dan menuntunnya kejalan Allah, dengan menanggalkan sementara peran akal (rasio). Sesungguhnya akal tidak berperan didalamnya, sebab segala hal disini berdasarkan kasyf (penglihatan mata hati).
- Ikut langkah-langkah ulama salaf (ulama terdahulu) akan membuahkan kebaikan yang amat besar, walaupun si pemikut bukan tergolong ahlil bathin. Tetapi jika ia serasikan langkahnya dengan ulama salaf, maka ia akan mendapatkan seperti apa yang didapat oleh mereka para salaf salihin.
- Segala permasalahan yang ada itu berlandasakan kejujuran, ada pun orang yang biasa berbohong jika diibaratkan bangunan tidaklah jauh berbeda dengan bangunan diatas air.(lemah dan mudah runtuh).
- Jika satu zaman itu rusak, maka wajiblah bagi mereka yang hidup di zaman itu, untuk mengikuti jejak langkah ulama salaf salihin. Jika tidak mampu menyamakan diri dengan mereka dalam setiap langkah, paling tidak hampir menyamai mereka, sebab setiap orang dalam kehidupan itu harus memiliki panutan (imam), sedang orang yang tidak memiliki panutan (Imam) maka panutannya adalah setan.
- Telah sesat sekelompok orang sebab buku yang dibacanya, seseorang tidak akan menjadi alim besar kecuali dengan guru yang membimbing dan menuntunnya, bukan dengan buku yang dibacanya.
- Penghuni kubur dari para Wali Allah berada di sisi Allah. Barang siapa tawajuh kepada mereka, maka mereka spontan datang membantunya.
- Jika kamu melihat seorang dari Ba’Alawy berjalan diluar Thariqah Ba’Alawy maka sesungguhnya maka tiada yang menghalangi dirinya selain kelemahannya sendiri, dan kelemahan itu adakalanya dalam kondisi ekonomi atau hati.
- Thoriqah Alawiyyah berdiri atas dasar kemuliaan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
- Barangsiapa yang menjalin hubungan (kontak batin) dengan kami, maka kami berikan kepadanya segala perhatian kami, kami tidak pernah melepas dan meninggalkannya walaupun dia tinggal jauh dari tempat kami.
- Tidak ada hak yang lebih besar kecuali haknya seorang guru. Ini wajib di pelihara oleh setiap orang Islam yang ingin selamat dunia akhirat. Sungguh pantas bila seorang guru yang mengajar, walau hanya satu huruf, diberi hadiah seribu dirham sebagai tanda hormat padanya. Sebab guru yang mengajarmu satu huruf yang kamu butuhkan dalam agama, dia ibarat bapakmu dalam agama.
- Barangsiapa ingin anaknya menjadi orang alim, maka dia harus menghormati para ahli fiqih. Dan memberi sedekah pada mereka. Jika ternyata anaknya tidak menjadi alim, maka pasti diantara cucu keturunannya yang akan menjadi orang alim.
- Seorang murid (pencari jalan menuju Allah) tidak boleh menyakiti hati gurunya karena belajar dan ilmunya tidak akan diberi berkah.
- Adakalanya seseorang murid (pencari jalan menuju Allah) diuji dengan kemiskinan, kepapaan dan kesempitan dalam kehidupan. Maka hendaknya ia bersyukur kepada Allah SWT, disebabkan dengan hal tersebut diatas dan harus beranggapan berprasangka bahwa takdir/kehendak Allah menjadikan anda miskin, papa dan susah serta sempit sebagai sebesar-besarnya kenikmatan karena dunia adalah musuh Allah. Anda harus bersyukur, maka Allah akan mengangkat derajatnya sama dengan para nabi-Nya, para Auliya-Nya dan hamba-hamba yang shaleh.
- Ketahuilah bahwa rizki itu telah ditentukan dan telah dibagikan oleh Allah SWT. Diantara hamba-hamba-Nya ada yang diluaskan rezekinya dan dilapangkan kehidupannya, dan dikurangkankan rizkinya menurut kebijaksanaan-Nya. Bersifatlah qona’ah (cukup) atas apa yang ditentukan Allah bagimu.
- Awas dan waspadalah dengan panjang angan-angan dan harapan tentang kehidupan di dunia, karena dunia akan menariknya untuk mencintai dunia, dan anda akan terikat dengannya sehingga sukar untuk beribadat dan mengasingkan diri untuk menuju jalan akhirat.
- Ada setengah manusia yang tabiatnya suka menganiaya orang, memandang rendah terhadapnya, atau suka mencela dan sebagainya. Jika anda tergolong orang terkena penganiayaan orang maka hendaklah anda bersabar jangan sekali-kali anda membalasnya. Disamping itu, hati anda harus benar-benar bersih dari dengki dan dendam terhadapnya, dan lebih utama lagi jika anda memaafkan orang yang menganiayamu, dan anda doakan supaya Allah memberi petunjuk kepadanya, dan itulah tanda-tanda akhlak serta tingkah laku para Shiddiqin (Orang yang Benar).
- Berusahalah sekuat kemampuanmu dalam menghindari diri dari rasa takut dan butuh serta berharap hak terhadap manusia, karena hal tersebut anda akan dipandang oleh manusia tetapi dipandang hina dalam pandangan Allah SWT, karena orang mukmin itu mulia disisi Allah SWT, tiada takut pada siapapun selain Allah dan apa yang dicintai-Nya, dan tak pernah mengharapkan sesuatu selain Allah.
- Awas! Jangan sekali-kali anda mentaati syaikh (guru) itu hanya lahiriah semata, karena ketahuilah bahwa syaikh itu dapat melihat ketaatanmu padanya, dibelakangnya anda membantah dan mendurhakai kerena sangkaanmu, anda sangka Allah tidak tahu kelakuanmu, sedangkan syaikhmu itu dekat dengan-Nya. Kalau anda begitu akan mendapatkan kecelakaan, kesempitan dan kebinasaan. Bukankah Allah berjanji kepada barang siapa Aku cintai maka penglihatannya adalah penglihatan-KU, pendengarannya adalah pendengaran-KU, mulutnya adalah mulut-KU, tangannya adalah tangan-KU dan kakinya adalah kaki-KU, barangsiapa memusuhinya atau menyakitinya, maka AKU dan para malaikatKU mengumandangkan perang terhadap dirinya. Jangan sekali-kali datang pada syaikh yang lain melainkan dengan izin syaikhmu.
- Ketahuilah bahwa sesungguhnya syaikhmu sangat berat hati tentang apa-apa yang baik untukmu, dengan itu janganlah engkau menuduh dan menyangka bahwa dia menyimpan perasaan dengki dan cemburu terhadap dirimu, dan semoga dijauhkan oleh Allah. Karena kamu hanya memandang sesuatu hal dengan pandangan lahiriah belaka bukan pandangan bashirah (mata hati dengan Allah). Awas ! jangan coba-coba menuntut agar syaikhmu mengeluarkan kelebihannya. Karena jika syaikhmu seorang Ahlillaah (orang yang meyakinkan dirinya untuk mengabdi kepada Allah) kekasih Allah, maka ia adalah orang-orang yang teramat merahasiakan kebaikannya, menutupi rahasia-rahasia tentang dirinya, dan sangat jauh untuk menonjolkan dirinya dengan karamah-karamah atau perkara-perkara luar biasa kepada orang banyak meskipun ia amat kuasa dan mampu untuk melakukannya serta diizinkan oleh Allah untuk melahirkannya (memperlihatkan karamahnya).
- Syaikh yang kamil (sempurna) ialah seorang syaikh yang selalu memberi faedah pada muridnya, dengan kesungguhan dalam perbuatan dan perkataanya, dia memelihara muridnya sewaktu dihadapannya maupun ketika berada jauh daripadanya. Sang Syaikh memelihara muridnya dengan getaran-getaran kalbunya dalam segala hal yang dikerjakan oleh muridnya. Maka paling sangat berbahaya jika Syaikhnya sudah berpaling dari si-murid. Dalam hal ini jika seluruh syaikh dan wali-NYA yang lain dari timur sampai ke barat dikumpulkan seluruhnya, untuk mengubah hati syaikhnya, niscaya sia-sia dan tidak akan berhasil, kecuali sang murid sendiri harus berusaha untuk mengubah hati syaikhnya dan minta maaf serta mendapat keridhoannya.
- Jika anda menyimpan penuh ta’zhim (kepatuhan) dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap syaikhmu, senantiasa menghargainya, percaya lahir dan batin bersedia mematuhi segala perintahnya, mencontoh akhlaknya, maka itulah tandanya anda sedang mewarisi rahasia-rahasia dari syaikhmu dari syaikhnya dari syaikhnya terus bersambung sampai dari Baginda Nabi Rasulullah SAW, atau sebagian dari rahasia-rahasia tersebut, dan ia terus akan hidup disisimu sesudah wafatnya syaikhmu, inilah anugrah yang terbesar dari Allah SWT yang dapat menghantarkan kita selamat & bahagia di dalam agama, dunia dan akhirat kelak.
- Para orang sholeh itu setelah wafat hanya hilang jasadnya saja , pada hakikatnya masih hidup seperti sedia kala malah tambah tajam pandangan bashirahnya dan makin kuat tawajuhnya (menghadap) kepada Allah. (Selanjutnya - Pokok Utama Perhatian Kaum ‘Arifin dan Kaum Ghafilin)