2017-11-15

Hikam Al-Hadad: Kelalaian Manusia akan Hakikat Keimanan sebagai Hikmah llahiyyah


[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]

Kelalaian Manusia akan Hakikat Keimanan sebagai Hikmah llahiyyah

Sekiranya manusia seluruhnya berada pada tingkat yang sama dalam merealisasikan dan mencapai hakikat-hakikat keimanan dan penalaran yang sehat, niscaya mereka akan mencurahkan seluruh kemampuan dirinya untuk mencapai akhirat dengan cara yang paling tulus, memalingkan diri dengan sepenuhnya dari segala kehidupan duniawi, serta tidak memasuki salah satu pintunya kecuali pada saat-saat darurat yang memaksa, sekadar memenuhi kebutuhan saja. Sayangnya, keadaan seperti itu pasti akan mengundang kehancuran dunia ini dan menghambat tegaknya sesuatu dari urusan-urusannya.

Kehendak Ilahi yang azali1 telah menentukan pembangunan dan pemakmuran dunia ini sampai suatu masa tertentu, yakni kelak pada saat Allah menentukan kehancuran dan kemusnahannya. Oleh sebab itu, hikmah Ilahiyyah yang Maha Tinggi telah menetapkan adanya kelalaian dan keberpalingan sebagian besar manusia dari inti hakikat-hakikat segala sesuatu2, sehingga keadaan tersebut mendorong mereka untuk membangun dunia ini, mendambakan kenikmatannya, mengumpulkan harta bendanya seraya memalingkan diri dari akhirat dan melalaikannya. Dalam suatu hadis, Rasulullah Saw. mengingatkan akan hal itu dengan sabdanya:

"Dunia ini adalah rumah kediaman bagi siapa yang tiada berkediaman dan harta kekayaan bagi siapa yang tiada berharta. Dan, untuknyalah orang-orang yang tak berakal mengumpulkan segalanya."3

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, "Seandainya tidak ada orang-orang dungu, takkan ada pembangunan (kemakmuran) di dunia ini."4

Seorang dari kalangan salaf saleh berkata, "Manusia ini diciptakan sebagai makhluk dungu; sekiranya tidak seperti itu, niscaya ia takkan merasa tenteram dan terpuasi dalam hidup ini." Namun, kasih sayang Maha Rahmah Ilaihiyyah telah mengkhususkan beberapa hamba Allah dengan karunia-Nya kewaspadaan dan kearifan akan hakikat-hakikat segala sesuatu dalam kehidupan duniawi ini. Mereka itulah orang-orang yang telah menyadari dan meyakini kebenaran hakiki seperti yang telah kami sebutkan sebelum ini. Yakni, mereka yang memalingkan diri secara keseluruhan dari dunia, yang selalu datang mendekat kepada Allah dan menghampiri kehidupan akhirat.

Mereka ini hanya beberapa orang, sungguh amat jarang dan sangat sedikit jumlahnya pada setiap masa dan tempat. Perhatikan dan camkan ini baik-baik. Sebab, pengertian ini sungguh amat berharga dan mengandung nilai-nilai yang sangat mulia. Wallahu a'lam. (Selanjutnya - Zaman Kebaikan (Perbaikan) dan Zaman Keburukan (Perusakan))

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Keterangan:
  1. Azali: sejak permulaan zaman.
  2. maksudnya; hakikat-hakikat keimanan, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an, diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diyakini oleh akal sehat disebabkan tidak adanya keraguan akan segala kebenaran dari kedua sumber tersebut (Al-Qur’an dan Sunnah)
  3. diriwayatkan dalam Jami’ Al-Saghir Imam Jalalluddin As-Suyuthi oleh Imam Ahmad dan Al-Baihaqi dari Sayidah A’isyah dan Ibn Mas’ud. Maksudnya; orang yang berakal sehat tidak akan peduli pada kesenangan dunia dan tidak ingin menumpuk-numpukkan harta bendanya karena ia adalah fana-semu, sedangkan akhirat lebih utama dan lebih kekal abadi.
  4. Yang dimaksud orang dungu disini ialah kaum ghafillin, yang lalai dan melalaikan pemahaman hakekat-hakekat keimanan tersebut, bukan orang-orang yang kurang akal atau tidak memiliki kecerdasan.

KOMENTAR