Nur Muhammad menurut Syekh Yusuf al-Nabhani
A. Hubungan Nur Muhammad dengan Allah SWT.
Beberapa dalil yang digunakan antara lain: “Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebelum segala sesuatu itu nur nabimu yang berasal dari nur-Nya (nur Allah). Sesungguhnya nurnya (Nur Muhammad) telah berpindah dari Adam kepada Syist sampai Allah menyerahkan (memberikan) nur kepada Abdul Munthalib dan putranya Abdullah. Maka jadilah cahaya itu beredar dengan menurut kehendak Allah”.
Dengan demikian bahwa hubungan Nur Muhammad dengan Allah bersifat Vertikal, yaitu jalinan antara makhluk dengan khaliknya.
Berarti Nur Muhammad adalah huduts (baru). Pergerakan yang dinamis itu menunjukkan bahwa Nur Muhammad sebagai makhluk ciptaan utama dari Allah, secara lahiriah melalui kudrah dan iradah Allah. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hubungan Nur Muhammad dengan Allah berlangsung terus-nenerus dan tidak pernah terpisahkan. Karena tidak akan ada gerakan yang menampakkan makhluk, tanpa melalui kudrah dan iradah Allah. Sehingga tanpa iradah Allah tidak akan ada makhluk.
Hubungan Nur Muhammad dengan adanya makhluk ialah bahwa Nur Muhammad itu langsung dari Allah dan makhluk yang tampak itu adalah langsung dari Nur Muhammad SAW sesuai dengan yang disebutkan al-Nabhani: “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah perantara Allah yakni (menghubungkan) antara Allah dengan hamba-Nya, tentang hal ini terdapat petunjuk dari Nabi SAW berdasarkan sabdanya, saya berasal dari Allah dan orang-orang beriman itu berasal dari saya”.
Selain itu hubungan Nur Muhammad dengan Allah adalah melalui tajalli: “Bahwa sesungguhnya dia berasal dari cahaya zat-Nya atau dari segi penampakan dan bahwa tajalli ini secara esensi (hakiki) itu khusus kepada Nabi Muhammad SAW dan bukan selainnya”.
Kemudian menurut hadis: “Orang Mukmin itu merupakan cermin bagi orang mukmin, artinya dia Muhammad SAW merupakan cerminan Tuhannya yang tampak didalamnya”.
Kedirian Tuhan melalui Nur Muhammad dan Muhammad SAW adalah pencerminan Tuhan-Nya, karena Allah tidak mungkin menampakkan diri-Nya secara langsung. Allah tidak ber-kaifiat, tidak memiliki bentuk dan tidak dapat dideteksi oleh ruang dan waktu. Di sisi lain, Muhammad SAW bila dilihat dari sudut pandang kejadiannya, maka ia adalah Nur Zat Allah yang qadim, dengan demikian ia dapat berhubungan langsung dengan Allah SWT.
Oleh karena itu, orang yang ingin berhubungan dengan Allah, mutlak melalui Nur Muhammad, karena Nur Muhammad memiliki posisi qadim dan posisi baru. Posisi qadim ketika ia berhadapan dengan Allah (bersama dengan Allah) dan posisi baru ketika ia berhadapan dengan makhluk.
Selanjutnya disebutkan bahwa posisi Muhammad berhadapan dengan Allah SWT yakni bahwa Muhammad berada pada maqam yang sangat tinggi. Seperti yang tersirat pada firman Allah (QS 9 ; 62): “Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka itu orang yang beriman”.
Kata ganti untuk “Allah dan Rasul-Nya” menggunakan kata ganti (dhamir) dalam bentuk tunggal (mufrad), padahal kata ganti yang dimaksudkan seharusnya memakai kata ganti mutsanna (bentuk dua), karena yang ditunjuk adalah dua yakni Allah dan Rasul. Jadi di sini Allah dan Rasul-Nya memakai kata ganti yang sama (dhamir huwa) yang menunjukkan ketinggian maqam Muhammad dan betapa dekat hubungan antara keduanya (Allah dan Rasul-Nya). Begitu juga pada QS 48 ; 8-9. Sehingga sangat berhubungan dengan sabda Nabi: “Barang siapa yang telah melihat saya, maka sesungguhnya ia telah melihat Allah SWT”.
Pada QS 48 ; 8-9, mengandung arti bahwa beriman kepada Muhammad SAW mesti sebagai subyek (pemberi risalah) dan sebagai obyek (yang diberi risalah). Demikianlah gambaran Nur Muhammad sebagai wasithah (perantara) yang menghubungkan makhluk dengan Allah SWT.
Proses tajalli yang berwujud pada konsep insan kamil, ada tujuh proses:
- Melalui syariat, terutama pelaksanaan rukun islam dengan baik.
- Meyakini rukun iman dengan sepenuh hati dan tekun. Keyakinan terhadap semua hal yang ghaib itu haruslah diyakini secara mantab seperti halnya meyakini apa yang ditangkap oleh alat indera. Karena iman adalah cahaya dari sumber cahaya ilahi, maka melalui cahaya itu orang dapat melihat apa yang tidak dapat dijangkau oleh mata kepala.
- Melaksanakan ibadah kepada Allah SWT (tingkat al-shalah/kesalehan) atas dasar khauf (takut/cemas) dan raja’ (harap). Nilai keseimbangan antara sikap cemas dan harap ini, merupakan nilai yang ideal, agar terhindar dari sikap yang tak ditampung oleh iman dan taqwa.
- Melaksanakan kebajikan (al-ihsan) dengan menempuh tujuh maqam, yaitu: tobat, inabah (tobat dari kelalaian terhadap Tuhan menuju pada kondisi yang senantiasa mengingat kepada-Nya), seperti halnya Zuhud, tawakal, rela, tafwid (tawakal sebelum, sedang dan sesudah berusaha) secara optimal dan ikhlas dalam segala kondisi dan situasi. Pada maqam tawakal, orang telah memasuki awal dari tajalli Tuhan yang disebutkan diatas, yakni tajalli al-af’al, justru pada tingkat ini orang (sufi) disinari oleh sifat terpuji dari Allah.
- Tahapan penyaksian (al-Syahadah). Disini sufi harus menguatkan kemauannya dalam cinta kepada Allah, mengingat Allah dan melawan hawa nafsu.
- Tahapan kebenaran (al-Shiddiqiyah). Pada tingkat ini seorang sufi mencapai tingkat ma’rifat dalam tida bentuk: ilmu al-yaqin; ‘ain al-yaqin dan haqq al-yaqin. Dengan demikian sufi telah memasuki tingkat tajalli (tajalli al-af’al, tajalli al-asma’, tajalli al-sifat, tajalli al-zat).Pada tingkat ilmu al-yaqin, sufi disinari oleh asma Allah; pada tingkat ‘ain al-yaqin, sufi disinari oleh sifat Allah; dan pada tingkat haqq al-yaqin, para sufi disinari oleh zat Tuhan. Pada hal-hal demikianlah eksistensi sufi sirna (fana’) di dalam asma’, sifat dan zat Allah.
- Sampai pada tingkat qurbah, yakni tingkat sedekat akrab di sisi Allah, maka pada diri sufi telah terpantul perilaku dan sifat serta asma Allah secara jelas. Dan mencapai insan kamil.
Di sisi lain kedekatan Muhammad SAW kepada Allah SWT ialah dapat dilihat dari segi nama.
ﻫﻝﻝﺍ(ﷲﺍ) dan ﺩﻢﺡﻢ(ﺪﻤﳏ)
Jumlah huruf Allah dan Muhammad adalah sama empat huruf. Bahkan Allah mengkaitkan nama Muhammad pada kalimat syahadat. Juga nama Allah dan Muhammad sejajar pada kalimat adzan dan iqamat serta pada kalimat tahiyyat dalam shalat. Selain itu Allah juga menjadikan sebutannya dalam kalimat syahadat menjadi 12 huruf untuk menyesuaikan dengan kalimat ﷲﺍ ﻻﺍ ﻪﻠﺍ ﻻ .
Ini adalah ilmu korelasi yaitu hubungan antara kata dan rahasia-Nya. Juga terlihat pada firman Allah QS al-Insyirah (94: 4): “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)-mu”, ayat ini ditafsirkan bahwa Allah tidak menyebut nama-Nya kecuali menyebut pula nama Muhammad. Sehingga Allah dan Muhammad sangat erat dan tidak dapat dipisahkan.
Dalam istilah tasawuf bahwa Muhammad itu bukan Tuhan, tetapi ia tidak dapat dipisahkan dari Allah SWT ﻭﻫﻻﺇﻭﻫﻻ (dia Muhammad bukan Tuhan tetapi tidak lain dari pada-Nya) dan bukan ﻭﻫﻭﻫ (dia Muhammad juga Tuhan).
Menurut Ibnu Arabi tentang fana’ adalah sirnanya kesadaran manusia terhadap segenap fenomena alam, bahkan terhadap semua nama dan sifat Tuhan (fana’ an sifat al-haq), sehingga terkesan ada secara hakiki dan abadi (baqa’) dan di dalam kesadarannya ialah Wujud Mutlak. Untuk sampai kepada keadaan demikian, seorang sufi secara bertahap harus menempuh enam tingkat fana’ yaitu:
- Fana’ ‘an al-mukhalafat (sirna dari segala dosa). Pada tahapan ini semua tindakan adalah berasal Tuhan. Sehingga akan mengarah kepada Wujud Tunggal yang menjadi sumber segala-galanya. Dalam tahap ini sufi berada dalam hadlrah al-nur al-mahdl (hadirat cahaya murni). Jika seseorang memandang tindakannya sebagai miliknya berarti ia masih berada pada hadlrah al-zhulmah al-mahdl (hadirat kegelapan murni).
- Fana’ an af al-Ibad (sirna dari tindakan kehambaan). Pada tahapan ini menyadari bahwa segala tindakan manusia pada hakikatnya dikendalikan Tuhan dari balik alam semesta. Dengan demikian menyadari adanya “satu agen mutlak” dalam alam yaitu Tuhan.
- Fana’ ‘an sifat al-makhlukqin (sirna dari sifat makhluk). Pada tahap ini menyadari bahwa segala atribut dan kualitas wujud mumkin tidak lain adalah milik Allah semata. Dengan demikian, sufi menghayati segala sesuatu dengan kesadaran ketuhanan, ia melihat dengan penglihatan Tuhan, mendengar dengan pendengaran Tuhan, dan seterusnya.
- Fana’ ‘an al-zat (sirna dari personalitas diri). Pada tahap ini menyadari tidak ada eksistensi dirinya, sehingga yang benar-benar ada di balik dirinya adalah Dzat yang tidak bisa sirna selama-lamanya.
- Fana’ ‘an kull al-‘alam (sirna dari segenap alam). Pada tahap ini menyadari bahwa segala aspek alam ini pada hakekatnya hanya khayal. Yang benar-benar ada hanya realitas yang mendasari fenomena itu.
- Fana’ ‘an kull ma siwa Allah (sirna dari segala sesuatu selain Allah). Pada tahap ini menyadari bahwa zat yang betul-betul ada hanya Zat Allah.
Setelah mencapai fana’ tahap keenam ini barulah sampai pada tahap menyadari bahwa yang benar-benar ada ialah Wujud Mutlak yang mujarrad dari segenap nama dan sifat, persis seperti permulaan keberadaan-Nya. Inilah perjalanan panjang dalam proses kembali ke asal. Di sini menunjukkan adanya keterkaitan Ibnu Arabi dengan tercapainya maqam yang tertinggi yaitu insan kamil dengan Syekh Yusuf al-Nabhani dengan ﻭﻫﻻﺇﻭﻫﻻ .
Untuk mencapai insan kamil dapat pula melalui martabat tujuh, sebagai berikut:
1. Martabat Ahadiyah: disebut juga “Martabat Kunhi Zat” yaitu keadaan zat semata-mata, dari sini belum nampak sifat dan asma. Sebagai sumber dari semua martabat.
2. Martabat Wahdah: tingkat ini adalah tingkat sifat secara keseluruhan (ijmal) dengan segala nama. Disinilah hakikat Nabi Muhammad SAW yaitu sebagai asal kejadian dari yang jadi, hawiyatul alam atau hakikat alam. Segala sesuatu bersumber dari Nur Muhammad.
Sabda Nabi: “Awal mula yang Allah jadikan adalah Nur Nabimu ya Jabir, dan Allah jadikan dari pada Nur itu, segala sesuatu ini. Dan engkau hai Jabir termasuk berasal dari sesuatu itu”.
Sabda Nabi: “Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Muhammad dari pada Zat-Nya, lalu Allah menciptakan alam dengan rahasia-Nya lewat Nur Muhammad SAW”. Hal ini dapat misalkan antara matahari dan cahaya matahari.
3. Martabat Wahidiyah. Pada martabat ini nyata pula sifat dan asma itu dalam arti munfashil (terurai). Dari sini pula lahirnya Kalam Qadim (ucapan Allah Yang Maha Sedia) yaitu “Annahu Anallahu” (sesungguhnya Aku-lah Allah). Adanya tuturan kata dengan Kalam Qadim berarti ada yang dituturi yaitu alam sifat dan asma.
Ketiga martabat diatas adalah qadim. Adapun terjadinya susunan pada tingkat itu hanya sekedar gambaran semata. Maka tampaklah dengan jelas pada alam asma dan alam sifat, ruh Nabi Muhammad SAW menyeluruh pada hadirat wahdah dan terurai hadirat wahidiyah. Pada alam syahadah/alam nyata ini, diartikan awal dari segala yang “jadi”, awal dari segala mungkin (mumkinat) yang datang dari hadirat Mahabbah sebagai yang tersebut dalam hadis Qudsi: “Aku (Allah) adalah suatu perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku berkeinginan agar dikenal maka Kujadikanlah makhluk (Muhammad SAW) agar dia kenal atau ma’rifat kepada-Ku”.
Lalu tampaklah (dhahir) Muhammad SAW di alam syahadah atau alam nyata ini, yang daripadanya juga tercipta segala isi alam ini. Sabda Nabi: ”Akulah bapak atau sumber dari segala ruh, dan Adam adalah bapak atau sumber segala tubuh”.
4. Alam Arwah: pada tingkat inilah terhimpun dan terhampar luas segala ruh yang tidak bersusun dan bertingkat.
5. Alam Mitsal: ada rupa atau bentuk, tetapi tidak bisa dibagi karena amat halusnya.
6. Alam Ajsad: berupa dan berbentuk dan bisa dibagi atau terpilah-pilah.
7. Alam Insan: terhimpun menurut pengertiannya.
Seorang dhahir pada alam insan (alam manusia) kemudian menjadi sempurna ma’rifatnya sampai kepada martabat yang pertama dapat gelar insan kamil. Insan kamil adalah manusia yang pada dirinya terhimpun sifat Jalal (kemuliaan) dan sifat Jamal (keindahan) dan tiada lain yaitu Nabi Muhammad SAW.
Makna ﻭﻫﻻﺇﻭﻫﻻ lebih bersifat pencegahan, karena di sini tidak menunjukkan adanya proses bersatunya Muhammad dengan Allah. Tetapi justru menggambarkan betapa beliau tidak dapat dipisahkan dari Allah. Dengan pengertian lain ﻭﻫﻻﺇﻭﻫﻻ menunjukkan adanya dua substansi yang tidak berubah menjadi satu, namun keduanya tidak terpisahkan. Hal berbeda dengan Hulul atau wahdat al-wujud.
Kalaulah proses penyatuan itu ada dan benar-benar terjadi, maka hal ini hanya dapat dipahami terbatas dalam konteks naluriah (zhaukiyah) semata, bukan lewat ucapan yang diungkapkan dengan kata-kata, suara yang didengar oleh orang lain, yang pada gilirannya akan memberikan dampak yang tidak saja membingungkan, tetapi juga akan dinilai sebagai sesuatu yang musyrik dan kufur.
B. Hubungan Nur Muhammad dengan Nabi Muhamad SAW.
Baik Nur Muhammad maupun Nabi Muhammad SAW adalah ciptaan Allah SWT. Namun ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Nur Muhammad bersumber dari Nur Allah, sementara Muhammad SAW adalah “nur zat” semata. Di sini tidak kaitan dengan makhluk lain, kecuali antara nur zat dengan Muhammad SAW.
Allah menciptakan Nur Muhammad agar dari sini makhluk dan alam tercipta secara lahir. Sabda nabi: “Yang pertama diciptakan oleh Allah adalah nur-ku dan dari nur-ku itulah Allah menciptakan segala sesuatu”.
Dan Muhammad SAW adalah yang diciptakan pertama, tanpa perantara. Sabda Nabi: ”Maka Dia (Rasulullah SAW) adalah orang pertama yang tampak (muncul) dari Allah dan dia berasal dari Allah tanpa perantara”.
Firman Allah QS. Al-Ahzab (33 : 45-46): “Sesungguhnya Kami mengutus (Muhammad) untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”.
Muhammad merupakan sosok yang suci lagi disucikan oleh Allah, yang tetap terpelihara sejak beliau masih dalam bentuk benih (bibit) didalam rahim ibunya, ketika masih bayi, remaja dan dewasa (tua) hingga diberikannya kesucian kenabian dan memuliakannya dan membersihkannya lewat ruh, kemuliaan, keelokan / keutamaan-Nya.
Dilihat dari sisi Nur Muhammad, maka Muhammad SAW adalah ciptaan Allah SWT yang paling awal dan merupakan sumber segala makhluk dan ciptaan. Sehingga alam raya termasuk manusia sebagaimana yang tampak oleh indera mata, namun sesungguhnya di balik yang tampak itu ada yang tidak tampak yaitu Nur Muhammad.
Apabila dilihat dari segi keberadaan (penciptaan) ruh, maka Muhammad SAW adalah sumber ruh (bapak ruh), sabda nabi: “Saya adalah bapak ruh dan Adam adalah bapak manusia”.
Tampaknya hadis tersebut di atas tidak sejalan deangan firman Allah al-Hijr (QS 5 : 29): “Dan Aku telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan-Ku), maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”, walaupun kelihatan bertentangan, namun apabila dicermati dengan beberapa uraian tentang Nur Muhammad, tampak dapat dikemukakan bahwa keduanya tetap dapat dikompromikan. Bahwa Allah meniupkan ruh-Nya kepada Nabi Adam adalah melalui ruh Muhammad SAW. Muhammad SAW adalah wasithah (penghubung) antara Allah dengan makhluknya, termasuk Nabi Adam as.
Sehingga tampak bahwa Muhammad SAW berada pada kekhususan yang tinggi. Selain sebagai wasithah dan bapak ruh, namun juga sebagai manusia biasa, firman Allah al-Kahfi (QS 110 : 18): “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu ……”.
Secara batiniyah, kedudukan tinggi Muhammad atau Nur Muhammad dapat dikemukakan dengan sabda nabi: “Cahaya yang pertama diciptakan Allah adalah cahayaku” yang lain: “Sesungguhnya Allah SWT ketika menciptakan 'Arsy, Ia menuliskan padanya La ilaha illallah Muhammad Rasulullah dengan cahaya-Nya”.
Nabi Muhammad SAW yang Rahmatan li al-alamin itu datang kepada manusia sesuai dengan kebutuhan manusia dan alam, yang perantara antara Allah dengan manusia. Ia berbentuk Nur saat menghadap Allah SWT dan ia berbentuk manusia pada saat berhadapan dengan manusia dan alam.
C. Hubungan Nur Muhammad dengan Manusia Beriman.
Nur Muhammad sebagai awal ciptaan dan sumber segala makhluk, tentu saja mempunyai hubungan yang erat dengan makhluk lain, termasuk manusia yang beriman.
Sabda nabi: “Saya berasal dari cahaya Allah Ta’ala dan orang-orang yang beriman itu berasal dari limpahan (pancaran) cahayaku”.
Dari keterangan di atas tampak jelas hubungan Nur Muhammad dengan manusia beriman adalah hubungan kejadian yang tidak dapat dipisahkan. Manusia tidak akan ada tanpa Nur Muhammad, bahkan demikian dekatnya hubungan tersebut, digambarkan bahwa Nur Muhammad dapat merasa sakit sebagaimana dirasakan oleh orang beriman. Hal ini juga dapat digambarkan: ”Sebagaimana halnya pohon mempunyai daun, dahan, cabang, akar, batang, bungan dan buah. Sedang hakekat secara umum (keseluruhan) adalah pohon”.
Namun demikian, adapula pendapat yang menolak tentang Nur Muhammad sebagai sumber semua ciptaan. Mereka berpendapat bahwa Allahlah yang memberi keselamatan. Sesungguhnya kita tidak berasal dari Muhammad SAW kecuali sebagai pemberi hidayah bagi keimanan kita. Adapun cahaya iman sesungguhnya berasal dari Allah SWT.
Pandangan yang menolak tentang Nur Muhammad yakni golongan yang apabila memberi suatu penilaian menggunakan alat panca indera mata.
Padahal persoalan Nur Muhammad tidak dapat dipahami dengan mata kepala, tetapi melalui mata hati, yang mempunyai kekuatan jauh lebih kuat. Masalah Nur Muhammad adalah masalah hakekat, masalah abstrak ia berada dalam ruang lingkup keimanan. Ia harus diyakini sebagaimana meyakini sesuatu yang dapat di lihat indera mata.
Demikian halnya hubungan Nur Muhammad dengan orang beriman, ia berada dalam lingkup keimanan. Hubungan keduanya tidak dapat dipisahkan secara lahir dan batin.
Secara lahir tubuh manusia adalah bentuk huruf Muhammad: ”Dan bahwa sesungguhnya kepala Adam itu adalah mim, tangannya adalah ha, pusarnya adalah mim dan selebihnya adalah dal”.
Secara batin: “Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dalam bentuk (gambar) Muhammad. Saya (Muhammad) adalah bapak ruh dan Adam adalah bapak manusia(tubuh)”.
Berdasarkan pandangan tersebut, dapat dipahami bahwa manusia beriman itu dapat meningkat menjadi Muhammad, tidak dalam kapasitas nabi dan rasul, tetapi terbatas pada Muhammad sebagai tubuh dan ruh serta sebagai hamba Allah yang wajib menyembah kepada-Nya.
Dengan demikian, sekalipun Nabi Muhammad SAW sebagai khalifah Tuhan yang paling sempurna, tidak tertutup kemungkinan bagi manusia lain untuk meraih kedudukan demikian, kendati tidak sesempurna yang dicapai oleh Nabi Muhammad SAW.
D. Hubungan Nur Muhammad dengan Alam Semesta.
Nur Muhammad sebagai sumber makhluk berhubungan erat dengan alam. Alam tercipta melalui Nur Muhammad. Tanpa Nur Muhammad, alam ini tidak akan terwujud. Apabila disimak dari segi penciptaan keduanya adalah huduts (baru), karena keduanya adalah ciptaan Allah SWT.
Sehingga segala sesuatu yang baik di alam ini, seperti malaikat, nabi, wali dan orang yang beriman pada umumnya memperoleh keberkahan dari Nur Muhammad SAW, dan dari Nur Muhammad itulah alam ini terbentang. Dan sekiranya bukan karena Nur Muhammad yang ada didalamnya maka tak sesuatupun akan bermanfaat. Dari sini dapat dipahami bahwa hubungan Nur Muhammad dengan alam berjalan terus menerus tiada henti.
Dengan demikian, penampakan Nur Muhammad melalui alam yang mengandung makna pendekatan kepada Allah. Memandang alam dan segala isinya, pada hakekatnya sama dengan melihat Nur Muhammad atau melihat Muhammad SAW atau melihat Allah SWT, sebagai sumber dan pencipta alam semesta. Pemahaman tersebut pada akhirnya akan melahirkan keyakinan bahwa Allah, Rasul Muhammad SAW dan alam tidak dapat dipisahkan, sehingga melahirkan keyakinan sebagaimana maksud dan ucapan:
ﷲﺍلﻮﺳﺮ ﺪﻣﺤﻣ ﷲﺍ ﻻﺍ ﻪﻠﺍ ﻻ
“Tidak ada Tuhan kecuali Allah SWT, dan Muhammad itu adalah utusan-Nya”.
Apabila ditelusuri lebih lanjut tampaknya hubungan Nur Muhammad dengan alam semesta tidak hanya melalui hubungan kejadian dan risalah, bahkan hubungan itu lebih jauh lagi yakni hubungan secara hakiki dan batin.
Melalui hubungan inilah, alam semesta ini dapat hidup, bertenaga dan dapat beribadah kepada Allah SWT. Sesuai dengan firman al-Isra’ (QS 17 : 44):
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Bijaksana lagi Maha Pengampun”.
Menurut Abu Hasan Syazili: ”Abu Hasan Syazili berkata: Aku melihat Rasulullah dalam mimpiku, lalu aku bertanya, Wahai Rasulullah SAW, Apakah hakekat orang yang diikuti (rasul) itu? Maka beliau menjawab bahwa engkau (anda) akan melihat orang yang diikuti (rasul) itu berada pada setiap makhluk bersama dengan makhluk didalam setiap makhluk”.
Ajaran hulul dari al-Hallaj dan ajaran wahdat al-wujud dari Ibn ‘Arabi terlihat perbedaan yang bersifat graduasi saja. Dalam teori hulul, masih membedakan antara ruh manusia dan ruh Tuhan, namun keduanya bercampur dalam diri manusia (misalnya, diri al-Hallaj). Sedangkan wahdat al-wujud, hakekat Zat Allah justru merupakan aspek batin yang berada dalam alam semesta dan dalam diri manusia. Jadi Tuhan tidak beda dengan manusia merupakan ungkapan lahir dari hakekat Tuhan yang merupakan wujud hakiki dari segala sesuatu. Jadi kesatuan manusia dengan Tuhan lebih tegas dalam teori wahdat al-wujud. Namun baik teori hulul ataupun wahdat al-wujud mengatakan Tuhan immanen dalam diri manusia dan alam semesta. Jadi keduanya berhak mengatakan: ”Ana al-Haqq’ “Akulah Tuhan itu”. (hati-hati . . . !!!)
Di sini ditemukan kesamaan pandangan antara al-Hallaj, Ibn ‘Arabi dan Syekh Yusuf al-Nabhani yaitu tentang Nur Muhammad, pada posisi Nur Muhammad sebagai sumber makhluk termasuk manusia. Khusus al-Nabhani memandang Nur Muhammad itu adalah perantara / wasilah antara manusia dengan Allah SWT.
Sehingga makhluk tidak bertemu atau bercampur langsung dengan Allah, karena tidak mungkin Allah dengan makhluk manusia dapat bercampur karena posisi Allah yang qadim dan makhluk atau manusia huduts (baru).
Sekiranya terjadi pertemuan Allah dengan manusia, maka pertemuan dan hubungan tersebut terjadi melalui fana’nya manusia itu kepada Nur Muhammad, dan saat itu terjadi hubungan ma’rifat dengan Allah SWT. Tanpa melalui cara itu tidak akan terjadi hubungan ma’rifat dengan Allah.
Hal ini dapat ditafsirkan dari firman Allah surat Ali Imran (QS 3:31): “Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Maksud ayat ini, bahwa Allah akan mencintai hamba-Nya itu, apabila hamba itu mengikuti dan mencintai rasul-Nya. Sehubungan dengan ayat tersebut, diterangkan oleh Imam Ahmad as-Sawih: “Engkaulah Muhammad pintu Allah, tanpa engkau tidak sampai orang itu kepada-Nya.
Dia Muhammad pintu Allah yang amat besar dan rahasia Allah yang membanggakan sampainya seseorang kepada Muhammad juga sampainya orang itu kepada Allah, karena sesungguhnya 2 (dua) hadirat itu (Allah dan Muhammad) adalah satu, dan siapa yang membedakannya berarti dia belum mengenyam (merasakan) nikmatnya ma’rifat”.
Manusia itu sendiri adalah Muhammad, baik bentuk maupun ruhnya, sehingga dalam prakteknya, Muhammad-lah yang dimaksud dalam firman Allah al-Baqarah (QS 2 : 21): ”Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu”.
Pada ayat tersebut, khatab-nya kepada manusia dalam pengertian Muhammad. Apabila manusia telah memahami (ma’rifat) dirinya, maka dia akan mencapai menjadi manusia yang sempurna dan menjadi muttaqin (orang yang bertakwa). Sebaliknya, bagi manusia yang tidak mengenal dirinya, maka ia akan dengan mudah berbuat dosa dan maksiat.