2017-10-09

Nur Muhammad Menurut Syekh Yusuf al-Nabhani


Yang pertama diciptakan oleh Allah adalah Haba (debu halus) dan yang pertama muncul didalamnya adalah Haqiqat Muhammad SAW sebelum munculnya seluruh wujud haqiqat yang lain.

Sehingga dapat dipahami bahwa pengertian Nur Muhamad itu adalah ciptaan Allah yang pertama dari nur-Nya atau Dzat-Nya yang menjadi sumber makhluk (al-maujud) beredar atas kehendak Allah dan bernama ruh Muhammad, yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW dan mempunyai sifat qadim dan al-huduts sebagai wasitah antara Allah dan hamba-Nya. 

Dan ini adalah awal maujud di alam ini kemudian Allah menampakkan diri-Nya melalui Nur-Nya pada al-Haba.

Yang pertama diciptakan oleh Allah adalah Ruh-Ku (Hadits Masyhur), Yang pertama diciptakan oleh Allah adalah nur-Ku (Hadits Hasan), Yang pertama diciptakan oleh Allah adalah akal (Hadits Masyhur).

Penafsiran Al-Tusturi, pengertian keturunan anak-anak Adam (Dzurriyat) (dalam surat al-A’raf ayat 172) ini adalah terbagi atas 3 (tiga) tingkatan, yaitu:
  1. Muhammad SAW, sebab ketika Allah hendak menciptakan Muhammad, Dia menampakkan nur dari nur-Nya.
  2. Adam
  3. anak cucu Adam
Rasulullah bersabda: ”Orang mukmin itu merupakan cermin bagi orang mukmin, artinya Dia (Muhammad SAW) itu merupakan cermin Tuhannya yang tampak didalamnya”.

Dan Tajalli Dzat ini secara esensial (hakiki) dikhususkan kepada Muhammad SAW, bukan untuk selainnya. Sehingga dapat pula dikatakan bahwa Muhammad SAW itu adalah Nur Dzat semata yaitu Muhammad adalah Citra Tuhan. 

Sahabat nabi Ibnu Abbas, meriwayatkan bahwa Nur Muhammad diciptakan mendahului penciptaan para nabi, bahkan Nur para nabi berasal dari Nur Muhammad SAW. Hal ini juga dikemukakan oleh sahabat Jabir bin Abdullah bahwa yang diciptakan paling awal adalah Nur Muhammad.

Selain itu Salman (yang hidup semasa nabi) juga memperoleh informasi dari nabi bahwa tidak ada yang melebihi kemuliaan penciptaan Nabi Muhammad SAW. Bahkan Allah menciptakan dunia dan segala isinya adalah untuk memberitahu tentang kemuliaan dan derajat Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Dan sekiranya bukan karena Nabi Muhammad, dunia dan seisinya tidak akan diciptakan. Dengan demikian kemuliaan nabi adalah adanya Nur Muhammad.

Kemuliaan ini dapat dilihat dari sisi akhlaknya, sesuai firman Allah: “Dan sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang luhur”, hal ini juga dapat dilihat dari perilaku beliau, yaitu mengorbankan dunia dan akhiratnya, dan merasa puas dengan Allah SWT.

Kesempurnaan dan keutamaan akhlak nabi ini karena beliau memiliki hati yang bersih dan suci, yang telah melalui empat kali proses pembedahan (pembersihan):
  1. Ketika nabi masih kecil
  2. Ketika nabi berusia 10 tahun atau menjelang dewasa
  3. Ketika Malaikat Jibril membawa wahyu saat diangkat menjadi nabi. Hikmahnya adalah menambah kemuliaan, kekuatan dan persiapan nabi untuk menerima dan menyampaikan wahyu yang akan diturunkan kepadanya dengan hati yang kuat, sempurna, suci dan diridloi
  4. Ketika malam Isra’ mi’raj. Hikmahnya adalah mengangkat derajat kemuliaan serta kesiapannya berada di sisi Allah SWT, serta untuk bermunajat, menyaksikan berbagai cahaya cemerlang dan rahasia-rahasia dan tajjali keindahan dan kemuliaan.
Keterangan diatas juga sebagai acuan bahwa Nur Muhammad itu sama dengan kesempurnaan, kemuliaan, keagungan pribadi Nabi Muhammad. 

“. . . . . sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebelum terciptanya segala sesuatu itu Nur Nabimu yang berasal dari Nur-Nya (Nur Allah) maka jadilah cahaya itu beredar dengan ketentuan menurut kehendak Allah, sementara pada waktu itu belum ada batu tulis, pena, sorga, neraka, malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia. Maka ketika Allah ingin menciptakan makhluk Dia (Allah) membagi nur itu menjadi empat bagian:

1. Pena (kalam)
2. Batu tulis
3. ‘Arasy
4. a. Penyangga Arasy
    b. Kursi
    c. Para malaikat
    d. …1. Langit
           2. Bumi
           3. Sorga dan Neraka
           4. a. Cahaya penglihatan bagi orang mukmin
               b. Cahaya hati berupa pengenalan (ma’rifat) kepada Allah
               c. Cahaya kebahagiaan berupa hikmah tauhid: Laa ilaha illa Allah, Muhamadun Rasul Allah
               d. ? ? ? . . . . . . . . (dicari sendiri, sesuai perilakunya)“

KOMENTAR