2018-01-31

Nur Muhammad Pintu Menuju Allah


A. Pengertian Menuju Allah.

Beribadah kepada Allah adalah suatu kewajiban bagi setiap hamba. Bahkan seluruh hidup dan kehidupan itu diperuntukkan beribadah kepada-Nya. Beribadah itu bagaikan suatu perjalanan (salik) menuju Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa ada jarak antara hamba dan Tuhannya, yang mesti dipertemukan.
Dan perjalanan ini nantinya akan sampai pada akhir perjalanan. Imam Abu Yazid al-Bustami mengistilahkan sebagai berikut: ”Jalan menuju Allah itu seperti banyaknya hitungan nafas”

Dalam firman Allah surat Al-Baqarah (QS 2: 186):

”. . . . . bahwasanya Aku adalah dekat. . . . . .”, 

Dengan menyebut kalimat dekat dengan hamba-Nya menunjukkan seakan-akan ada jarak antara Allah dengan hamba yang akan didekatkan dan dipertemukan melalui sebuah jalan (thuruk). Sarana yang dilalui dalam mempertemukan Allah itu adalah berbagai macam ibadah, bahkan seperti banyaknya nafas manusia yang keluar masuk, yang jumlahnya 32.000 kali nafas sehari semalam (perhitungan normal).

Usaha manusia untuk dapat bertemu (liqa’) dengan Allah adalah cara manusia wajib menyembah Allah dan penyembahan itu sendiri merupakan usaha pertemuan (liqa’) manusia dengan Allah. Firman Allah dapat disimak dalam surat al-Kahfi ayat 110:

”Katakanlah: ”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ”Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. 

Dalam ayat ini dinyatakan bahwa manusia yang ingin bertemu dengan Allah hendaklah melakukan ibadah kepada-Nya.

B. Nur Muhamad dan Pintu Allah.

Pandangan Imam Ahmad as-Sawiy yang menyebutkan bahwa Muhammad itu adalah pintu Allah. Siapa saja yang datang kepada Allah, tanpa melalui pintu tersebut, maka orang itu tidak akan bertemu dengan-Nya.

Nur Muhammad itu mempunyai dua sifat, yaitu:

1. Sifat Qadim

Nur Muhammad itu berasal dari zat Allah adalah qadim, karena sumbernya juga qadim, maka yang datang dari qadim itu juga adalah qadim. Qadim-nya zat Allah itu adalah qadim Mutlak atau qadim atas dirinya sendiri. Sementara qadim-nya Nur Muhammad adalah qadim yang di-qadim-kan oleh Allah SWT, bukan qadim atas dirinya sendiri. 

Pertemuan antara dua pihak dapat terjadi apabila keduanya mempunyai persamaan sifat. Oleh karenanya, pertemuan (liqa’) Allah dengan hamba-Nya tidak dapat terwujud karena adanya perbedaan sifat, kecuali hamba/manusia itu menggunakan pintu Nur Muhammad yang bersifat qadim. Sehingga di sini Nur Muhammad berfungsi sebagai wasilah (penghubung).

2. Sifat Huduts (baru)

Nur Muhammad mempunyai sifat huduts (baru) karena ia telah berhubungan dan terkait dengan makhluk yang sifatnya huduts (baru).

Di sinilah hubungan Nur Muhammad dengan manusia. Keduanya mempunyai sifat yang sama, namun keduanya juga terdapat perbedaan, karena sifat huduts bagi manusia adalah sifat esensinya. Sedangkan sifat huduts bagi Nur Muhammad karena dikaitkan dan dihubungkan dengan makhluk huduts agar terwujud hubungan antara kedua pihak. Nur Muhammad sebagai pintu Allah dan sebagai wasilah dalam liqa’ antara Allah SWT dan hamba-Nya.

C. Pertemua (liqa’) Allah dengan Manusia.

Seseorang yang telah tiba di Pintu Allah atau Nur Muhammad, maka saat itu manusia dalam posisi bersama Nur Qadim, sehingga dirinya tidak merasakan apa-apa karena fana’ (tranmutasi diri) atau lebur ke Nur Qadim bagaikan suatu perjalanan telah sampai dan tiba pada akhir perjalanan. Setelah liqa’ dengan Allah SWT, ia tidak ingat lagi dirinya karena fana’ dalam Nur Muhammad yang qadim. 

Berbeda dengan Panteisme dalam filsafat, leburnya hamba kepada Allah yakni dua menjadi satu. Sulit untuk dipisahkan antara keduanya. Sehingga sulit dipisahkan antara Allah dan yang mana manusia. Pandangan tersebut berbeda dengan cara pandang kaum sufi, karena bukan manusia yang fana’ dan melebur kepada Allah. Akan tetapi, pengertian fana’ adalah ruh manusia yang fana’ dan lebur ke Nur Muhammad yang qadim itu. Kemudian Nur Muhammad itu yang lebur dan fana’ kepada Allah SWT dan keduanya memiliki sifat yang sama, kembali ke asalnya zat al-Muhti.

Menurut al-Ghazali ada 2 (dua) macam yang menjadi penghalang liqa’ (bertemu dengan Allah):

1. Allah SWT sangat dekat dengan manusia. Sesuatu yang terlalu dekat kepada manusia sulit bertemu dan melihatnya seperti manusia melihat dirinya sendiri. Hal tersebut Allah sebutkan dalam Al-Qur’an:

“ . . . . dan Kami lebih dekat kepada-Nya daripada urat leher “ (QS. al-Qaaf 50: 16).

“Dan (juga) pada dirimu sendiri maka apakah engkau tidak memperhatikan?” (QS. al Dzariyat 51: 21)

2. Kemungkinan karena belum mengetahui dan belum mengenal Allah, dalam pengertian pengenalan sesungguhnya, yang utuh dan menyeluruh.

Menurut pandangan al-Asy’ariah, bahwa pengetahuan tentang Allah itu bagi setiap muslim mukallaf wajib mengetahui minimal 2 (dua) macam sifat Allah, yaitu:
  1. Sifat Allah yang ijmal (umum) yaitu wajib meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna dan tidak mungkin mempunyai sifat kekurangan.
  2. Sifat Allah yang tafsili (yang terinci) yaitu mengetahui sifat-sifat Allah yang terurai, yaitu 20 sifat Allah yang wajib dan 20 sifat Allah yang mustahil dan 1 (satu) sifat Allah yang jaiz.
Keyakinan tentang sifat Allah diatas adalah pengenalan dan pengetahuan tingkat awal dan dasar. Hal ini merupakan pondasi dan rambu-rambu agar terhindar dari kesalahan. Bahkan terhindar dari kekeliruan dan kemusyrikan, karena sebagaimana diketahui mempelajari ilmu ma’rifat sangat mungkin mendekati kekafiran. Akan tetapi, dari ilmu ma’rifat itu pula kita akan mencapai puncak ilmu pengetahuan khususnya tentang fana’ dan setelah mencapai tingkat kasyaf. 

Para ulama sufi, sepakat bahwa dasar rujukan dalil dalam mempelajari dan mendalami ma’rifat kepada Allah antara lain ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: “Perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya”.

ﻪﺑ ﺭ ﻑﺮﻋ ﺪﻗﻓ ﻪﺳﻔﻧ ﻒ ﺮﻋ ﻦﻣ

Mengenai perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tersebut, para ulama berbeda pendapat, baik kedudukan dalil itu maupun maknanya.

Al-Syaikh Izzuddin berkata:

“Telah jelas bagi saya rahasia hadis ini bahwasanya Allah SWT telah meletakkan ruh ruhaniyah pada jasmaniah Lathifah Lahuth dimana terletak Nasut yang mengubah Wahdaniyah dan Rabbaniyah”.

Untuk menjelaskan hal ini terdapat 10 ulasan sebagai berikut:
  1. Sesungguhnya al-Haqiqat al-Insany membutuhkan pengatur dan penggerak. Ruh adalah pengatur dan penggerak. Di sisi lain dapat dipahami bahwa alam ini mutlak memerlukan pengatur dan penggerak.
  2. Ketika pengatur al-Haqiqat al-Insany itu satu, maka dia itu adalah ruh. Sesungguhnya dapat dipahami pengatur alam itu adalah esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam pengaturan dan penentuannya serta tidak boleh ada sekutu bagi-Nya dalam penguasaan-Nya. (QS al-Anbiya 21: 22).
  3. Jasad (tubuh) itu tidak akan bergerak kecuali dengan iradat ruh dan gerakan itu adalah gerakannya sendiri. Ketika ia ada dengan keadaannya, ia tidak akan bergerak dengan baik atau jelek kecuali dengan takdir dan iradat-Nya.
  4. Sesuatu yang ada di dalam tubuh tidak akan bergerak kecuali dengan pengetahuan dan perasaan ruh.
  5. Dalam tubuh tidak ada sesuatu yang lebih dekat kepada ruh kecuali ruh itu yang dekat kepada segala yang ada di dalam tubuh.
  6. Ketika ruh ada sebelum adanya jasad yang kemudian menjadi ada sesudah tiadanya jasad. Dipahami bahwa Allah ada sebelum ciptaannya ada yang kemudian menjadi ada. Sungguh Allah senantiasa menciptakan.
  7. Ketika ruh ada di dalam jasad, bentuknya tidak diketahui, berarti ia suci dari bentuk.
  8. Ketika ruh berada dalam jasad, waktunya tidak diketahui. Ia suci dari bentuk dan waktu. Ia tidak disifati oleh waktu dan bentuk, tetapi ruh ada pada semua jasad. Demikian juga Allah SWT ada pada setiap tempat. Dia suci dari tempat dan waktu.
  9. Ketika ruh berada dalam jasad tidak terjangkau oleh pengelihatan, tidak dapat digambarkan dengan bentuk.
  10. Ruh tidak dapat dirasa dan diraba. Ia suci dari rasa dan rabaan. Ini berarti perkataan ﻪﺑ ﺭ ﻑﺮﻋ ﺪﻗﻓ ﻪﺳﻔﻧ ﻒ ﺮﻋ ﻦﻣ yakni bagi siapa yang menenal dirinya, maka ia akan berbahagia dan juga termasuk yang mengakui dosanya.
Maka barang siapa yang mengenal dirinya dengan fana’ maka ia akan mengenal Tuhannya secara kekal (baqa’). Dalam dalil itu lebih awal dikaitkan dengan pengenalan diri manusia sebagai syarat untuk menghasilkan pengenalan kepada Allah, karena tidak mungkin mempelajari Zat Allah. Ia adalah Dzat dan bukan makhluk. 

Sesungguhnya esensi manusia itu adalah ruh. Dan ruh itu berasal dari Nur Muhammad ﻪﺳﻔﻧ ﻒ ﺮﻋ akan menghasilkan ﻪﺑ ﺭ ﻑﺮﻋ ma’rifah kepada Allah SWT. Dengan demikian manusia tidak membahas Allah sebagai pencipta, akan tetapi yang dibahas adalah diri manusia. Selaku makhluk yang dapat membuahkan ma’rifah seperti tersebut diatas, sehingga ma’rifah itu ada 2 (dua) macam, yaitu:
  1. Ma’rifah bil ilmi yaitu mengenal Allah dengan teori ilmu pengetahuan, dari segala macam disiplin ilmu. Dan itulah yang dimaksud dengan pengetahuan teoritis.
  2. Ma’rifah bi al-dzawqi yaitu mengenal Allah melalui muraqabah, musyahadah dan mukasyafah yang menghasilkan fana’ dan baqa’ melalui amalan-amalan dhahir dan batin, dengan jalur pintu Allah, Nur Muhammad. Dan itulah yang dimaksud pengetahuan praktisi.

KOMENTAR