2017-10-10

Dzikir Dalam Suluk Syekh Abdul Jalil


Pada dini hari yang dingin itu, sayup-sayup terdengar suara orang-orang berdzikir menyebut-nyebut Asma Allah.

Semula ia menganggap suara dzikir itu sebagai hal yang lazim dilakukan oleh jama’ah-jama’ah tarekat yang jumlahnya cukup banyak di Baghdad. Namun, semakin lama didengarkan semakin menimbulkan tanda tanya besar. Entah benar entah tidak, seolah-olah suara dzikir itu berbunyi, “Subhani, al-hamdu li, la ilaha ilia ana wa ana al-akbar, fa’budni” (mahasuci aku, segala puji untukku, tidak ada Tuhan selain Aku, Maha-besar Aku, sembahlah Aku).”

Khawatir terjebak dalam khayal dan mimpi akibat kantuk, ia menggeleng-gelengkan kepala sambil meng-usap-usap kedua matanya, berusaha berada pada kondisi sadar seutuhnya. Keanehan mendadak kembali mencekam kesadarannya. Telinganya dengan jelas mendengat dzikir yang mengumandang itu berubah bunyi, “Subhana Allah, al-hamdu li Allahi, la ilaha illa Allah, Alla’huakbar, fa ‘buduhu (Mahasuci Allah, Segala puji milik Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, sembahlah Dia).” Namun, lagi-lagi kedalaman hatinya menangkap suara dzikir itu berbunyi aneh, “Subhani, al-hamdu li, la ilaha illa ana wa ana al-akbar, fa’budni.”

Ketidakselarasan antara pendengaran telinga indriawi dan pendengaran batin membuatnya bingung. Berulang-ulang ia mengusap-usap mata dan terbatuk-batuk untuk meningkatkan kesadaran. Namun, ketidakselarasan suara dzikir itu makin terdengar terang dan jelas. Dan sesaat kemudian yang didengarnya hanyalah suara dzikir yang ditangkap telinga indriawinya. la sangat bingung dengan peristiwa itu.

Ahmad at-Tawallud yang berjalan di depan tampaknya menangkap sasmita yang dialami Abdul Jalil (Syeh Siti Jenar). Dengan penuh ketenangan dia mengajak Abdul Jalil berhenti di teras sebuah surau. Setelah beberapa jenak mengatur napas, dia menjelaskan tentang suara-suara dzikir yang mengalun di tengah keheningan.

“Bagi telinga indriawi manusia,” kata Ahmad at-Tawallud dengan suara datar, “suara dzikir itu terdengar sebagai puji-pujian mengagungkan Allah. Namun, bagi mereka yang mulai tersingkap kesadaran sejatinya dari hijab-hijab indriawi, telinga batinnya akan mendengar dzikir itu sebagai puji-pujian terhadap diri sendiri.”

“Saya baru saja mendengar perbedaan suara itu, o Tuan Yang Mulia,” kata Abdul Jalil meminta penjelasan. “Saya sempat berpikir itu hanya mimpi atau khayalan saja.”

“Aku sengaja membawa Tuan melewati kawasan ini untuk menguji pendengaran telinga batin Tuan. Karena menurut hemat saya, Tuan sudah cukup jauh menembus selubung demi selubung hijab yang memenjarakan keakuan sejati Tuan. Itu berarti, Dia sudah meng-anugerahi kemuliaan sehingga Tuan bisa menangkap perbedaan segala sesuatu yang sejati dan yang palsu.”

Suluk Abdul Jalil (Syeh Siti Jenar)

KOMENTAR