2017-11-14

Nur Muhammad Menurut Husain al-Hallaj


Konsep al-Hulul dari Al-Hallaj, berpijak dari hadis sahih (riwayat Muslim): “Inna Allah kholaqo Adam ‘ala suratih” = “Allah menciptakan Adam (manusia) sebagai duplikat dari surah (bentuk)-Nya”. Sehingga manusia merupakan penampakan lahir atas cinta Tuhan Azali kepada Dzat-Nya yang mutlak yang tak mungkin disifatkan , maka “ia adalah Dzat-Nya”. Oleh karena itu, Allah mempunyai dua sifat dasar: Lahut (ketuhanan) dan Nasut (kemanusiaan)

Sebelum Tuhan menciptakan makhluk, lebih dahulu melihat diri-Nya sendiri. Dalam kesendirian-Nya itu, terjadi dialog antara Tuhan dengan diri-Nya sendiri. Dialog itu didalamnya tidak terdapat kata-kata ataupun huruf. Yang dilihat Allah adalah kemuliaan dan ketinggian Dzat-Nya dan Iapun cinta pada dzat-Nya sendiri, cinta yang tidak dapat disifatkan, dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak ini. Iapun mengeluarkan dari yang tidak ada (minal ‘adam) bentuk copy dari diri-Nya (suratih mina nafsi) yang mempunyai segala sifat dan nama. Bentuk copy ini adalah Adam. (hati-hati . . . .???)

Setelah menjadikan Adam dengan cara ini, Ia memuliakan dan mengagungkan Adam. Ia cinta pada Adam karena pada diri Adamlah Allah muncul dalam bentuknya. Oleh karena yang banyak berasal dari Dia, maka pada hakikatnya manusia mempunyai sifat ke-Tuhanan dalam dirinya. Hal ini dapat juga dipahami dengan firman-Nya Al-Baqarah ayat 34: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ”Sujudlah kamu kepada Adam, mereka bersujud kecuali iblis, …….”.

Dengan demikian, dalam diri manusia terdapat sifat ke-Tuhanan dan dalam diri Tuhan terdapat sifat kemanusiaan. Sehingga persatuan antara Tuhan dengan manusia mungkin saja terjadi. Yaitu dengan menghilangkan sifat kemanusiaannya, maka yang ada adalah sifat ke-Tuhanan yang ada dalam diri manusia.

KOMENTAR