- Martabat Ahadiyah (kesendirian) yaitu adanya Allah SWT adalah martabat la ta’ayun, kebebasan, zat dan pencairan. Ikatan kebebasan dan dan pngertian tidak adanya materi (esensi). Suci dari adanya hubungan antara zat dan sifat, dan suci dari setiap ikatan.
- Martabat Wahdah (al-Haqiqat al-Muhamadiyah) adalah tahapan materi pertama, yang merupakan pengungkapan tentang ilmu-nya Allah SWT (pengenalan-Nya) terhadap zat dan sifat-Nya dan terhadap semua makhluk secara global tanpa adanya perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
- Martabat Wahdiyah (Keesaan : Al-Haqiqat al-Insaniyah : esensi manusia) adalah tahapan materi/esensi kedua, yang merupakan pengungkapan tentang ilmu Allah SWT terhadap zat dan sifat-Nya, serta terhadap semua makhluk yang ada dengan jalan memisahkan dan membedahkan antara satu dengan yang lainnya (terperinci). Tiga martabat di atas, semuanya bersifat Qadim. Istilah taqdim dan ta’khir (terdahulu dan kemudian) itu hanya dari segi penilaian (rasio), bukan dari segi waktu.
- Martabat Alam Arwah, yang merupakan pengungkapan tentang segala sesuatu yang ada di alam ini yang bersifat murni dan sederhana yang tampak pada zat-zat.
- Martabat Alam, yang merupakan segala sesuatu yang ada tersusun dengan susunan yang halus dan tidak menerima pembagian dan pemecahan, begitu pula tidak dapat dimusnahkan dan dibinasakan.
- Martabat Alam Jasmani (kebendaan) yang merupakan pengungkapan tentang segala sesuatu yang ada dan tersusun dan tersusun yang padat dan kasar serta dapat dibagi dan dipisahkan.
- Martabat Manusia, bila dia berhasil meningkat dan menampakkan semua martabat tersebut ruang lingkupnya maka dia disebut insan kamil.