2024-05-02

Rahasia Di Balik Bunga Mawar


Bismillahirrahmaanirrahiim

Di dalam Alquran Surat Arrahman ayat 37 Allah SWT berfirman:

فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ

Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak

Dikisahkan pada saat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani RA. hendak masuk ke kota Baghdad setelah beliau menyelesaikan masa khalwatnya atas perintah Nabiyullah Khidhir As, setibanya beliau di perbatasan kota Baghdad, beliau didatangi oleh utusan para wali dari kota Baghdad (yang juga seorang wali besar pada saat itu). 

Setelah berjumpa, utusan wali berkata: “Wahai Abdul Qadir Al-Jailani, engkau tidak mempunyai tempat di kota Baghdad, karena kota Baghdad telah di penuhi oleh para Wali-wali Allah“. Maka Syekh Abdul Qadir Al-Jailani RA. berkata seraya menunjukkan gelas yang telah berisi penuh air bening; “Seperti inilah kota Baghdad itu, gelas adalah kota Baghdad dan airnya adalah para wali Allah”, lalu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani RA. mengambil sekuntum Mawar Merah dari langit (dengan Ijin Allah SWT) kemudian beliau letakkan di tengah air dalam gelas itu, sambil berkata; “Aku adalah Mawar di antara para wali-waliNya”. Pada saat itu juga wali  utusan tersebut tersungkur  lalu bersujud meminta ampunan kepada Allah SWT atas kesombongannya dan mempersilahkan tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani RA. Memasuki kota Baghdad dengan sambutan yang meriah dari para wali di kota Baghdad.

Bunga Mawar adalah raja dari seluruh bunga, kalau saja di antara para bunga ada walinya maka pastilah Allah SWT menjadikan bunga Mawar sebagai qutubnya seluruh bunga. Bunga Mawar telah menjadi perlambangan suatu manifestasi pencapaian ketinggian spiritual seseorang sebagai insâan kamil. 
 
Dikisahkan pada suatu hari, Nabi Sulaiman AS ketika mendirikan shalat, tiba-tiba satu pohon bunga tumbuh di hadapannya seraya memberi salam, Nabi Sulaiman As menjawab salamnya dan menanyakan maksud dan tujuannya ada di hadapannya. Maka bunga itu menjawab; “bahwasanya aku bunga mawar penawar segala penyakit”. Maka pada keesokkan harinya, tumbuh berbagai bunga dihadapan Nabi Sulaiman AS untuk mengatakan khasiatnya yang dapat diambil dari mereka. Semuanya ini datang dari kuasaNya Allah SWT.

Kata Mawar  jika dilihat dari estimologinya  berasal dari kata wardah, MA-WAR-DAH. Dalam bahasa Indonesia menjadi Mawar, yang mengandung misteri sufistik. Sifat maskulinnya (karena sangat disukai kaum hawa, sesuatu yang disukai kaum hawa adalah lambang maskulin) menggambarkan sifat kesatriaan, arti satria bukanlah sebuah kemenangan dari suatu perlawanan melainkan sebuah perjuangan yang tak henti-hentinya. Maka seseorang yang melakoni kehidupan dengan mematuhi prinsip kaidah syari’at, tharikat, hakikat dan ma’rifat adalah seorang satria yang gagah berani dan layak menyandang lambang Mawar, untuk mencapai Keridhaan Allah SWT.

KOMENTAR